<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-9080682297008997308</id><updated>2012-02-16T17:04:53.273-08:00</updated><category term='liburan'/><title type='text'>blacknovembers</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://blacknovembers.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9080682297008997308/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blacknovembers.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Fahmi FR</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02538757189290100290</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_7GV8f6ADW_Y/Sgl_2DmUa9I/AAAAAAAAAHA/u6dtkqt1UC0/S220/profile.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>28</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9080682297008997308.post-2158809061502134491</id><published>2010-09-07T08:15:00.000-07:00</published><updated>2010-09-07T08:28:50.659-07:00</updated><title type='text'>Preseden Pidato Presiden</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_7GV8f6ADW_Y/TIZZH7scPZI/AAAAAAAAAIc/njisqujpYW0/s1600/95406_pidato-sby-tentang-hubungan-indonesia---malaysia.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_7GV8f6ADW_Y/TIZZH7scPZI/AAAAAAAAAIc/njisqujpYW0/s200/95406_pidato-sby-tentang-hubungan-indonesia---malaysia.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5514192786579799442" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Masih ingat dengan pidato presiden Yudoyono pada Rabu (1/9) lalu? Pidato yang disampaikan presiden untuk menyikapi memanasnya hubungan antara Indonesia dengan Malaysia – yang kali ini dipicu oleh penangkapan sejumlah petugas Kementerian Kelautan dan Perikanan beberapa waktu lalu. Mungkin ada yang kecewa dengan sikap Yudoyono, sebagai presiden, melalui pidatonya itu. Yudoyono lagi-lagi mendapat cap sebagai presiden yang tidak tegas, lembek. Tidak berani ‘melawan’ Malaysia yang selalu cari masalah dengan Indonesia.  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dalam pidatonya di Mabes TNI itu, presiden menyikapi masalah martabat dan kedaulatan tidak jauh berbeda dengan pidato atau sambutan pada acara seremonial kepresidenan biasa. Bahkan, pidato Yudoyono itu tidak lebih ‘galak’seperti ketika dulu presiden pernah memarahi pejabat-pejabat yang tidur saat dirinya sedang berbicara dalam sebuah forum. Pidato Yudoyono di Cilangkap kemarin seperti tidak punya semangat sebagai pemimpin negara yang berdaulat. Atau paling tidak semangat untuk membangkitkan nasionalisme rakyatnya sendiri.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sebaliknya, apa yang disampaikan Yudoyono seakan menegaskan bahwa Indonesia, saat ini, bukan lagi sebuah Negara-bangsa. Melainkan perusahaan yang harus dijaga kondusifitas warganya dari hal-hal yang mengganggu kelancaran kegiatan ekonomi trans-nasional. Globalisasi membawa kebijakan pemerintah yang sebelumnya bergantung pada Negara-bangsa kini telah berubah menjadi simpul hubungan dagang yang terintegrasi dan menciptakan interdependensi atau kesalingtergantungan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Simak saja, pada bagian awal pidatonya kemarin, Yudoyono menyebutkan beberapa poin yang terkait hubungan perekonomian yang baik antara Indonesia dan Malaysia secara khusus maupun dengan negara-negara di regional ASEAN. Sehingga hubungan baik itu harus dijaga dan dirawat untuk keuntungan dua negara. Mulai dari keberadaan TKI di Malaysia, iklim investasi, pariwisata hingga kerjasama di bidang pendidikan. Semuanya dihitung dengan logika ekonomi sesuai dengan mekanisme pasar regional dan internasional. Globalisasi telah sedemikian rupa mengurangi kedaulatan dan otonomi Negara-bangsa.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Oleh sebab itu, menurut David Harvey model negara Whestpalian tidak lagi memadai untuk mendiskripsikan begitu banyak entitas yang disebut sebagai Negara-bangsa. Menurut model Whestpalian, negara merupakan sistem politik yang didasarkan pada batas-batas territorial dan otonomi. Batas territorial dilaksanankan di atas batas-batas geografik ruang dibandingkan dengan di atas masyarakat. Dan otonomi mengandung pengertian bahwa Negara melaksanakan kekuasaan di luar campur tangan aktor-aktor eksternal.    &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi percuma saja berteriak ‘Ganyang Malaysia’ di jalan-jalan, melempari kantor kedutaan besar Malaysia dengan telur busuk, dan aksi-aksi anti Malaysia lainnya. Karena saat ini bukan lagi masanya Bung Karno memimpin negeri ini. Dimana saat itu tengah terjadi perebutan pengaruh ideologi kapitalis-sosialis, blok Timur-Barat di berbagai negara di dunia. Sehingga batas-batas negara menjadi masalah serius sebagai pagar bagi pengaruh-pangaruh luar yang yang coba-coba mengancam.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Selain itu, pemerintah republik ini juga sepertinya sudah merestui jika negaranya menjadi komoditas kapitalis global. Melalui ‘demokrasi pura-pura’ semua sumber daya alam bahkan sumber daya manusia Indonesia hanya dikuasai oleh segelintir orang. Menjaga kesatuan dan kedaulatan NKRI adalah harga mati. Tapi semangatnya tidak lagi bersentuhan dengan hal-hal bagaimana mempertahankan martabat dan kedaulatan negara. Tapi lebih kepada bagaimana mereka, yang hanya beberapa orang saja, bisa tetap meraup keuntungan sendiri dan kelompoknya tanpa peduli dengan kesejahteraan umum. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tata pemerintahan secara otomatis menjadi pemerintah ekonomi (economic government). Sebuah idiom khas neolib dimana para pejabat pemerintah adalah pengusaha yang menjual Negara , wilayah dan segala sumber dayanya yang bisa ditawarkan kepada investor. Kebijakan pemerintah disebut sukses ketika pengusaha berdatangan melakukan investasi. Dan pada akhirnya penilaian sukses tidaknya sebuah pemerintahan disesuaikan dengan prinsip pasar. Keindonesiaan pemimpin negeri ini sudah berubah. Namun tidak merubah kesejahteraan rakyatnya. Nasionalisme elit politik Indonesia hanya berkutat pada perebutan kekuasaan sehingga mereka bisa menjual negeri ini.  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Mari kita ajari pemerintah dengan perlawanan dan mengajari rakyat dengan pergerakan. Tabik!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9080682297008997308-2158809061502134491?l=blacknovembers.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blacknovembers.blogspot.com/feeds/2158809061502134491/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9080682297008997308&amp;postID=2158809061502134491&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9080682297008997308/posts/default/2158809061502134491'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9080682297008997308/posts/default/2158809061502134491'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blacknovembers.blogspot.com/2010/09/preseden-pidato-presiden.html' title='Preseden Pidato Presiden'/><author><name>Fahmi FR</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02538757189290100290</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_7GV8f6ADW_Y/Sgl_2DmUa9I/AAAAAAAAAHA/u6dtkqt1UC0/S220/profile.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_7GV8f6ADW_Y/TIZZH7scPZI/AAAAAAAAAIc/njisqujpYW0/s72-c/95406_pidato-sby-tentang-hubungan-indonesia---malaysia.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9080682297008997308.post-6288329542358526486</id><published>2010-08-31T00:17:00.000-07:00</published><updated>2010-08-31T00:23:18.238-07:00</updated><title type='text'>Semangat Mudik</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_7GV8f6ADW_Y/THytTj8HKrI/AAAAAAAAAIU/5PMWcjXDFhs/s1600/mudik.gif"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 217px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_7GV8f6ADW_Y/THytTj8HKrI/AAAAAAAAAIU/5PMWcjXDFhs/s320/mudik.gif" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5511470595571133106" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Bulan Ramadhan menyisakan sepuluh hari terakhir. Hitung mundur dimulai untuk menuju Lebaran. Hari raya Idul Fitri bagi umat muslim. Tak terkecuali bagi muslim di negeri ini yang secara kuantitas terbanyak sealam dunia. Oleh sebab itu, momen Lebaran di Indonesia menjadi sangat menarik karena perayaan Idul Fitri melibatkan ratusan juta manusia di berbagai pelosok negeri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tradisi pulang kampung, yang kemudian biasa disebut mudik adalah salah satu fenomena sosial tiap tahun menjelang Lebaran di negeri ini. Mudik menjelma menjadi sebuah pergerakan manusia urban secara besar-besaran dari kota-kota besar menuju kampung halaman asal mereka. Dalam waktu yang hampir bersamaan, biasanya mulai terjadi seminggu jelang Lebaran (H-7), jutaan orang berduyun-duyun pulang kampung dengan menggunakan bermacam moda transportasi. Baik transportasi massal (publik) maupun pribadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena melibatkan begitu banyak orang, mudik tak ubahnya pertunjukan kolosal yang dilakoni warga perantauan di negeri ini. Lihat saja, sebentar lagi jalan-jalan utama lintas kota akan ramai dengan kendaraan pemudik. Terminal, stasiun, pelabuhan, hingga bandar udara penuh sesak oleh para pemudik. Agar tak kehabisan tiket untuk pulang kampung, sebagian orang sudah membelinya sejak jauh-jauh hari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, ketika pemerintah masih belum becus sekedar menangani urusan transportasi publik, untuk bisa pulang kampung dengan nyaman dan aman menjadi tidak mudah. Mudik perlu perjuangan dan butuh pengorbanan. Paling tidak perjuangan untuk macet berjam-jam di jalanan atau pengorbanan berdesak-desakkan saat menumpang kendaraan umum. Belum lagi maraknya tindak kriminal yang menjadi ancaman tersendiri bagi para pemudik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi tersebut pun akhirnya ‘memaksa’ warga yang hendak pulang kampung mencari cara alternatif untuk mudik. Mudik dengan menggunakan sepeda motor adalah salah satunya. Beberapa tahun terakhir, pulang kampung menggunakan sepeda motor banyak dipilih para pemudik. Secara keamanan dan kenyamanan sebenarnya sepeda motor bukanlah jenis kendaraan yang cocok digunakan untuk perjalanan jarak jauh. Apalagi dengan jumlah penumpang dan barang bawaan yang banyak. Bahkan tak jarang pemudik yang nekat membawa balita atau anak mereka pulang kampung menggunakan sepeda motor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi-lagi mudik untuk bisa Lebaran di kampung halaman memang butuh perjuangan. Termasuk mudik dengan menggunakan sepeda motor yang katanya lebih hemat biaya ketimbang naik bus, kereta api atau transportasi umum lainnya. Selain harus menempuh jarak yang cukup jauh, pemudik sepeda motor juga masih harus berpacu dengan kendaraan lain di jalan-jalan yang kondisinya tidak semuanya mulus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, apakah berbagai resiko yang harus dihadapi saat mudik, baik itu menggunakan transportasi umum, kendaraan pribadi maupun sepeda motor, mengurungkan niat dan semangat orang-orang untuk pulang kampung saat Lebaran? Ternyata jawabannya tidak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai sebuah tradisi, pulang kampung atau mudik tidak bisa dilewatkan begitu saja bagi masyarakat urban setiap Lebaran. Karena di dalam tradisi mudik ada nilai-nilai kehidupan sosial keagamaan dan keluarga yang harus tetap dijaga. Agama, dalam hal ini Islam, mengajarkan kepada umatnya untuk selalu menjaga tali silaturahim dengan orang tua, saudara, tetangga dan orang-orang yang dikenal. Termasuk saling memaafkan yang dianjurkan agama saat hari raya Idul Fitri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai nilai kehidupan sosial yang ada dalam tradisi mudik tersebutlah yang menjadikan orang-orang begitu bersemangat untuk pulang kampung saat Lebaran. Tak peduli jalanan macet, angkutan umum penuh sesak, dan resiko lain yang mungkin menghadang langkah mereka menuju kampung halaman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tatanan kehidupan sosial seperti Itulah yang oleh Anthony Giddens disebut sebagai tatanan sosial pasca-tradisional. Dalam hal ini tatanan sosial pasca-tradisional bukanlah tatanan dimana tradisi ditinggalkan oleh masyarakatnya. Ketimbang dihancurkan, tradisi lebih direformasi sedemikian rupa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski tradisi selalu berbenturan dengan nilai-nilai kehidupan modern, namun dalam perkembangan masyarakat modern saat ini kembali kepada tradisi merupakan hal penting dalam mengkonsolidasikan tatanan sosial. Bahkan tradisi pun memiliki kebenarannya sendiri. Suatu kebenaran ritual yang dinyatakan benar oleh mereka yang meyakini. Dan itu terdapat di hampir setiap wilayah kehidupan. Termasuk pulang kampung atau mudik saat Lebaran adalah salah satunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa pulang kampung saat Lebaran menjadi siklus kebahagiaan tahunan bagi rakyat kebanyakan di negeri ini. Bahagia dan gembira karena bisa berkumpul bersama keluarga, paling tidak untuk beberapa hari,  setelah terpisah selama satu tahun bahkan lebih. Bertemu dengan orang-orang yang dicintai untuk melepas rindu. Dan mungkin juga bertemu orang yang dimusuhi untuk saling memaafkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat mudik, selamat sampai tujuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fahmi FR @310810&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9080682297008997308-6288329542358526486?l=blacknovembers.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blacknovembers.blogspot.com/feeds/6288329542358526486/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9080682297008997308&amp;postID=6288329542358526486&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9080682297008997308/posts/default/6288329542358526486'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9080682297008997308/posts/default/6288329542358526486'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blacknovembers.blogspot.com/2010/08/semangat-mudik.html' title='Semangat Mudik'/><author><name>Fahmi FR</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02538757189290100290</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_7GV8f6ADW_Y/Sgl_2DmUa9I/AAAAAAAAAHA/u6dtkqt1UC0/S220/profile.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_7GV8f6ADW_Y/THytTj8HKrI/AAAAAAAAAIU/5PMWcjXDFhs/s72-c/mudik.gif' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9080682297008997308.post-5269660729913096081</id><published>2010-08-24T00:34:00.000-07:00</published><updated>2010-08-24T00:39:17.414-07:00</updated><title type='text'>Je Maintiendrai; Semangat Kebelandaan dan Pengakuan Kedaulatan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_7GV8f6ADW_Y/THN28Ew5uOI/AAAAAAAAAIM/GOlH0_EyMLI/s1600/Antique_Map_Tallis_East_Indies.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 234px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_7GV8f6ADW_Y/THN28Ew5uOI/AAAAAAAAAIM/GOlH0_EyMLI/s320/Antique_Map_Tallis_East_Indies.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5508877543647328482" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sehari sebelum hari peringatan Kemerdekaan RepublikIndonesia, Senin (16/8)  lalu, koran lokal di Cirebon  memuat tulisan tentang kemerdekaan Republik Indonesia yang hingga usianya ke-65 tahun ternyata masih belum benar-benar diakui oleh pihak Belanda. Bagi pihak Belanda, proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945 silam secara de jure tidak berarti apa-apa untuk Indonesia sebagai negara-bangsa bisa berdaulat. Kalaupun ada penyerahan kedaulatan kepada Indonesia, pihak Belanda baru mengakuinya pada 27 Desember 1949 saat Ronde Tofel Conferentie atau Konferesi Meja Bundar. Belanda pun merasa penyerahan kedaulatan Indonesia tersebut tak lebih dari sebuah pemberian hadiah dari kerajaan Belanda bagi negeri bekas jajahannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenyataan bahwa hingga saat ini masih ada pihak-pihak di Belanda yang belum benar-benar mengakui kedaulatan Indonesia adalah bukan tanpa alasan. Penguasaan Belanda atas wilayah Nusantara yang dimulai sejak abad ke-16 adalah pencapaian terbesar dalam sejarah kolonialisme dunia. Betapa tidak, sebuah negara Eropa kecil dengan luas wilayah tak lebih dari sepertiga luas pulau Jawa mampu menguasai 13.000 pulau yang wilayahnya terbentang lebih dari 7.000 kilometer sepanjang khatulistiwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberhasilan Belanda menguasai gugusan kepulauan Nusantara dengan segala kekayaan alamnya jelas mampu melampaui pencapaian negara kolonial Eropa lain seperti Inggris dan Perancis. Sebuah catatan menyebutkan, rata-rata pendapatan setiap tahun sebesar 700 juta gulden mengalir dari Indonesia kenegeri Belanda. Baik Inggris maupun Perancis tidak pernah bisa menyamai pendapatan dengan jumlah sama besar dari wilayah jajahan meraka. Jadi sangat beralasan jika Belanda tak mau kehilangan 'surga' Nusantara sejak dulu. Bahkan ketika mereka tidak bisa lagi menguasai Indonesia secara fisik, mereka tak mau begitu saja memberikan pengakuan kedaulatan secara de jure kepada Indonesia sampai dengan saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika tuntutan dekolonialisasi mulai muncul dalam wacana internasional pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20, pemerintah kolonial Belanda merupakan pihak yang paling terusik. Terlebih ketika di Hindia Belanda sendiri sudah mulai muncul gerakan kaum nasionalis, agamis, maupun sosialis-komunis yang mengkritik bahkan memberontak keberadaan pemerintah kolonial. Maka sejak saat itulah Belanda mulai menyebarkan slogan dan semboyan kolektif untuk mempertahankan koloni Indonesia. Salah satunya adalah slogan, Indie verloren, rampspoedgeboren! (Hindia hilang, melapetaka menjelang!). Dan Indonesia pun menjadi sangat penting dalam mentalitas kolektif bangsa Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, insiden terbakarnya anjungan Belanda pada Pameran Kolonial se-Dunia di Paris, Perancis pada tahun1931 menjadi peristiwa penting lainnya dalam upaya membangun mentalitas kolektif bangsa Belanda terhadap keberadaan Indonesia.  Pada 28 Juni 1931 anjungan Belanda yang megah dengan bentuk bangunan berarsitektur khas Indonesia pada pameran tersebut musnah terbakar dilalap api. Pihak Belanda menilai insiden kebakaran itu adalah bentuk sabotase pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab yang hendak merongrong pemerintah koloniali Belanda. Kelompok komunis yang anti-imperialis dituduh berada dibalik insiden tersebut meski panitia pameran tidak bisa membuktikan kebenaran akan hal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Je Maintiendrai! (Saya akan mempertahankan!) demikian headline salahsatu suratkabar Belanda menyikapi peristiwa kebakaran yang menimpa anjungan mereka. Sebuah pernyataan yang kemudian oleh Bonaficius Cornelis de Jonge, Gubernur Jendral Hindia Belanda saat itu, dijadikan sebagai kredo keramat untuk melegetimasi pemerintah kolonial Belanda di Indonesia. Orang Belanda harus mempertahankan pengaruh kekuasaannya di Hindia, demi untuk penduduk pribumi, untuk Belanda, dan sebagai kewajiban kita kepada dunia.  Demikian ungkap de Jonge dengan penuh semangat menggebu-gebu. Bahkan dengan nada sangat sinis, de Jonge juga menyatakan bahwa rakyat Indonesia belum siap untuk merdeka, dan oleh karenanya Belanda harus tinggal selama tiga ratus tahun ke depan sebagai tuan pelindung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil mengumandangkan semboyan Je Maintiendrai, pemerintah kolonial Belanda juga memberangus berbagai pergerakan nasionalis dengan memenjarakan dan mengasingkan tokoh-tokoh pergerakan tanpa proses hukum yang jelas. Pembangunan kamp pengasingan Boven Digoel merupakan salah satu upaya Belanda yang melebihi kekejaman rezim Nazi Jerman sekalipun dalam mempertahankan kekuasaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah gambaran semangat bangsa Belanda dalam mempertahankan tanah air Hindia 'milik' mereka. Indonesia adalah surga bagi bangsa Belanda. Tak berlebihan jika bekas pejabat atau pegawai pemerintah kolonial Hindia Belanda yang pernah hidup di tanah Indonesia merasa seperti Adam dan Hawa yang terusir dari surga ketika mereka harus kembali ke negeri mereka yang hanya beberapa petak dan dikelilingi air sungai dan laut. Penyerahan kedaulatan kepada Republik Indonesia memaksa Belanda meninggalkan karya terbesar yang sangat berharga yang dibangun selama tiga setengah abad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketidakrelaan Belanda untuk mengakui kedaulatan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945 pun berlanjut dengan dua kali agresi militer Belanda ke Indonesia dengan membonceng tentara sekutu hingga akhir tahun 1948. Gagal melakukan agresi militer, Belanda membawa urusan 'surga mereka' ke meja diplomasi Konferensi Meja Bundar. Semangat Je Maintiendrai masih mengalir dalam darah delegasi Belanda. Dalam salah satu klausulnya, delegasi Belanda justru meminta pihak Indonesia menanggung beban utang Hindia Belanda. Terlalu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan bangsa Indonesia untuk mencapai kemerdekaan dan menjadi bangsa yang berdaulat penuh liku terjal dan dibayar mahal dengan jiwa dan raga para pejuang. Catatan sejarah dapat dibaca dan dimaknai dengan imajinasi personal mendalam termasuk serangkaian kepekaan sosial politik. Menurut Frances Gouda, memori sejarah orang Indonesia maupun orang Belanda sama-sama terjebak dalam tarik menarik benang kusut antara mengingat dan melupakan. Jika bangsa Belanda sudah melupakan 'surga' mereka yang hilang sejak dulu, maka bangsa Belanda secara sukarela juga sudah mengakui kedaulatan Republik Indonesia sejak proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 silam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi tentu saja tidak mudah melakukan hal itu. Sebab dalam tatanan sosial, melupakan sama pentingnya dengan mengingat. Selain itu proses melupakan dan mengingat selalu berubah-ubah seiring waktu. Rudy Kousbroek menyebutnya sebagai 'sumur nostalgia beracun' yang dapat menghalangi rekonstruksi jujur tentang dunia sosial dan realitas politik Hindia Belanda. []&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9080682297008997308-5269660729913096081?l=blacknovembers.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blacknovembers.blogspot.com/feeds/5269660729913096081/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9080682297008997308&amp;postID=5269660729913096081&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9080682297008997308/posts/default/5269660729913096081'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9080682297008997308/posts/default/5269660729913096081'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blacknovembers.blogspot.com/2010/08/je-maintiendrai-semangat-kebelandaan.html' title='Je Maintiendrai; Semangat Kebelandaan dan Pengakuan Kedaulatan'/><author><name>Fahmi FR</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02538757189290100290</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_7GV8f6ADW_Y/Sgl_2DmUa9I/AAAAAAAAAHA/u6dtkqt1UC0/S220/profile.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_7GV8f6ADW_Y/THN28Ew5uOI/AAAAAAAAAIM/GOlH0_EyMLI/s72-c/Antique_Map_Tallis_East_Indies.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9080682297008997308.post-3739999194200677068</id><published>2010-08-03T03:30:00.000-07:00</published><updated>2010-08-03T03:32:35.613-07:00</updated><title type='text'>Cara Neolib Cegah Demam Berdarah</title><content type='html'>“Assalaamu’alaikum”. Seorang perempuan mengucap salam di halaman rumah. “Wa alaikum salaam”. Aku menjawab salam sambil keluar dari dalam rumah. “Ada apa ya?” aku bertanya pada perempuan itu. “Permisi, pak. Kami sedang mengadakan kegiatan fogging untuk mencegah penyebaran nyamuk agar keluarga bapak dan warga di lingkungan ini terhindar dari serangan penyakit demam berdarah dan chikungunya.” Kata perempuan itu menjelaskan maksud kedatangannya. “Jadi nanti rumah bapak akan di-fogging oleh petugas kami,” tambahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmmm…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gratis lho pak. Tidak dipungut biaya,” katanya. Belum sempat aku menanggapi, perempuan itu melanjutkan penjelasannya. “Bapak cukup membayar bubuk Abate ini,” ujarnya sambil menyodorkan lima bungkus kecil bubuk Abate yang sejak tadi ia pegang. “Satu bungkus harganya empat ribu rupiah, pak.” &lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baiklah. Kini giliranku untuk bicara. “Begini ya, sepengetahuanku untuk urusan fogging dan pemberian bubuk Abate itu menjadi tugas Dinas Kesehatan. Dan tidak dikomersilkan seperti ini,” kataku. “Iya pak,” perempuan itu langsung menanggapi. “Tapi, biasanya petugas dari dinas atau dari puskesmas itu melakukan fogging setelah ada warga yang meninggal karena demam berdarah atau chikungunya,” papar perempuan itu meyakinkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, yang bener? kalau begitu payah juga petugas atau pegawai dinas yang mengurusi masalah kesehatan masyarakat di negeri ini. Baru bekerja setelah ada yang mati. Aku berucap dalam hati mendengar penjelasan perempuan itu. Aku membolak-balik sebungkus bubuk Abate. Isinya cuma 1 gram. Kata perempuan itu satu bungkus digunakan untuk 50 liter air. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya beli satu bungkus saja,” kataku kepada perempuan itu. Jadi aku cukup merogoh kocek empat ribu rupiah. “Tidak bisa, pak.” Sergah perempuan itu. “Kalau rumah bapak mau di-fogging, bapak harus membayar lima bungkus. Ini sudah satu paket.” Perempuan itu kembali menyodorkan bungkus Abate itu kepadaku. “Kalau mau beli Abate-nya saja minimal dua bungkus,” jelasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terima kasih. Saya cuma ada uang empat ribu.” Aku memberikan uang kertas dua lembar pecahan dua ribu kepada perempuan itu dan langsung masuk ke dalam rumah. Sempat aku lihat perempuan itu beranjak dari halaman rumah dengan menggerutu. Maaf anda kurang beruntung! Hehehe….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Cerita di atas bukan karangan fiktif. Itu benar-benar terjadi kemarin. Kejadian tersebut mengingatkanku pada kondisi dimana saat ini betapa peran pemerintah benar-benar telah dilucuti oleh sebuah sistem yang bernama kapitalis. Terlebih perkembangan kapitalisme kini beranjak menjadi apa yang saat ini diistilahkan sebagai proyek Neoliberlaisme. Dimana pokok dari neoliberalisme adalah menyingkirkan peran sosial Negara/pemerintah bagi kesejahteraan warganya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Herry Priyono menyebut neoliberalisme awalnya bukan sekedar urusan ekonomi. Tetapi suatu proyek filosofis yang beraspirasi menjadi teori komprehensif tentang manusia dan tatanan masyarakat. Ragam relasi manusia bisa saja disebut kultural, politik, sosial, psikologis, estetik, spiritual dan seterusnya. Namun, bila dikatakan secara lugas, beragam relasi itu dipandu prinsip transaksi laba-rugi yang berlaku dalam kinerja ekonomi pasar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Neoliberalisme berupaya meradikalisasi semua hubungan sosial manusia yang ditentukan oleh kinerja pasar. Sehingga menuntut prinsip pasar diterapkan bukan hanya pada pemenuhan kebutuhan barang dan jasa. Proyek neoliberalisme prinsip itu juga diterapkan untuk pengadaan atau pelayanan, misal, pendidikan termasuk kesehatan oleh pihak swasta atau pengusaha. Ketika berbicara swasta, maka motifnya sudah pasti untuk mencari keuntungan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka terjadilah untuk sekedar fogging dan pemberian bubuk Abate saja kini telah diserahkan kepada perusahaan swasta. Sekedar informasi, perempuan yang menawarkan bubuk Abate kepadaku itu mengaku bekerja di perusahaan swasta bernama Usaha Mandiri yang berkantor di Kuningan, Jawa Barat. Hanya dengan selembar surat keterangan dari pihak desa lengkap dengan stempel serta tanda tangan kepala desa, mereka bisa menyerbu setiap rumah warga untuk menjual bubuk Abate dengan iming-iming fogging gratis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu dimana pegawai Dinas Kesehatan? Puskesmas? Posyandu? Ketika untuk urusan mencegah penyebaran nyamuk saja diserahkan kepada swasta?! Jawabannya, para pegawai yang bekerja pada dinas terkait telah dikarantina neoliberalisme! Mereka baru (mau) muncul dan bertindak ketika logika pasar memposisikan mereka untuk bisa mendapat keuntungan materi. Atau, mengutip pernyataan perempuan si penjual Abate, biasanya petugas dari dinas atau dari puskesmas melakukan fogging setelah ada warga yang meninggal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Neoliberalisme menerapkan homo oeconomicus sebagai model prilaku manusia dan menjadikan logika pasar sebagai koordinasi masyarakat. Negara adalah perusahaan dan pejabat adalah pengusaha yang menjual kota hingga desa sekalipun beserta sumber daya apa saja yang bisa ditawarkan kepada investor. Sehingga saat ini seakan tidak ada lagi pelayanan kesehatan dari pemerintah kepada warganya. Karena yang ada hanyalah bisnis pelayanan kesehatan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt; Aku bukan tidak peduli pada kesehatan ketika hanya membeli sebungkus bubuk Abate sehingga rumahku tidak di-fogging. Aku sepakat dengan istilah ‘mencegah lebih baik daripada mengobati’ serta fogging dan menaburkan bubuk Abate sebagai bentuk pencegahan terhadap penyebaran nyamuk penyebab demam berdarah. Tapi, ketika fogging dan bubuk Abate sudah dikomersilkan sedemikian rupa maka aku memilih cara 3 M (Menutup, Menguras, dan Mengubur) untuk mencegah demam berdarah. Bukankah itu lebih efektif? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum mengakhiri tulisan ini, aku panjatkan do’a bagi keluarga, tetangga, dan semua orang yang membaca tulisan ini agar terjaga dan terhindar dari penyakit demam berdarah, dan segala penyakit lainnya. Dan bagi yang sedang sakit, semoga Tuhan Yang Maha Kuasa segera memberikan kesembuhan tanpa harus menunggu kita terbelit jerat bisnis pelayanan kesehatan di negeri ini. Amin. &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9080682297008997308-3739999194200677068?l=blacknovembers.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blacknovembers.blogspot.com/feeds/3739999194200677068/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9080682297008997308&amp;postID=3739999194200677068&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9080682297008997308/posts/default/3739999194200677068'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9080682297008997308/posts/default/3739999194200677068'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blacknovembers.blogspot.com/2010/08/cara-neolib-cegah-demam-berdarah.html' title='Cara Neolib Cegah Demam Berdarah'/><author><name>Fahmi FR</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02538757189290100290</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_7GV8f6ADW_Y/Sgl_2DmUa9I/AAAAAAAAAHA/u6dtkqt1UC0/S220/profile.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9080682297008997308.post-2344504780907533718</id><published>2010-07-30T04:50:00.000-07:00</published><updated>2010-07-30T04:55:20.135-07:00</updated><title type='text'>PUASA; Melawan Konsumerisme</title><content type='html'>Ramadhan sebentar lagi tiba. Bulan suci bagi umat Islam untuk menjalankan kewajiban berpuasa selama sebulan penuh. Bulan yang penuh keberkahan, rahmat dan ampunan dari Allah SWT. Oleh karena itu bulan Ramadhan sering dijadikan sebagai momentum untuk 'membersihkan' diri dari dosa-dosa yang telah diperbuat. Selain itu, tentu saja pengharapan untuk menjadi umat yang bertakwa dan balasan masuk surga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keistimewaan Ramadhan juga karena di dalamnya wahyu pertama al-Quran diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Sehingga Ramadhan selalu mendapat sambutan dengan semangat keagamaan dan spiritualitas yang tinggi dari umat Islam. Berbagai persiapan untuk menyambut datangnya bulan puasa pun dilakukan jauh-jauh hari. Baik yang bersifat mental-spiritual maupun fisik-material.&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjalankan kewajiban puasa Ramadhan di abad modern bagi umat Islam benar-benar penuh godaan. Bukan hanya godaan untuk tidak makan dan tidak minum di siang hari serta dari segala hal yang membatalkan puasa. Di satu sisi umat Islam juga harus menahan diri dari godaan dan serangan budaya konsumerisme yang selama bulan Ramadhan muncul atas nama agama.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi ini tentu tidak terlepas dari perkembangan kapitalisme lanjut sebagai bentuk paling mutakhir sistem ekonomi kapitalis yang menempatkan 'konsumsi' sebagai titik sentral kehidupan dalam tatanan sosial masyarakat kapanpun dan di manapun. Sesuatu yang bertolak belakang dengan substansi diwajibkannya puasa agar seseorang mampu mengendalikan hawa nafsu (konsumtif), meningkatkan kepedulian terhadap sesama dan lebih mendekatkan diri kepada Sang Pencipta sehingga menjadi insan yang bertakwa.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umat Islam, tiap menjelang Ramadhan selalu diposisikan sebagai konsumen potensial untuk meraup keuntungan bisnis. Sensibilitas keagamaan bagi para pebisnis menjadi senjata yang ampuh untuk mendongkrak tingkat konsumsi dan belanja masyarakat dibanding hari-hari biasa. Terlebih Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk muslim terbanyak di dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomena ini tentu saja dapat dengan mudah ditemukan. Lihat di sekitar kita sekarang ini. Berbagai macam barang-barang konsumsi diproduksi dan ditawarkan spesial menyambut bulan suci Ramadhan. Mulai dari sandang, pangan, hingga kartu telepon seluler sekalipun. Termasuk hiburan seperti sinetron, musik, humor, dan ceramah pun sudah mulai tayang atas nama bulan suci Ramadhan. Kemudian muncullah istilah sinetron religi atau album religi para penyanyi maupun grup band yang selalu ditunggu para penggemarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui iklan di media cetak maupun elektronik berbagai komoditas yang diproduksi dengan sensibilitas keagamaan dilempar ke pasar. Tentu saja selama bulan puasa produk yang dibuat sudah dibalut dengan 'pakaian' bulan suci Ramadhan, Islam. Dan yang tidak kalah penting, sadar maupun tidak sadar, sesungguhnya di situlah terjadi proses penanaman semacam pembenaran atau 'Islamisasi' atas perilaku konsumtif umat Islam selama bulan puasa. Idi Subandy Ibrahim menyebutnya sebagai upaya kapitalisasi Islam atau penaklukan semangat keagamaan oleh pasar, dunia bisnis, atau kapitalisme itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proyek  penaklukan semangat keagamaan oleh pasar tersebut tentu saja sudah berlangsung sejak jauh-jauh hari sebelum bulan Ramadhan datang. Kemudian dipusatkan pada Ramadhan selama satu bulan penuh sampai lebaran. Bahkan lebaran pun bisa menjadi semacam ‘festival konsumsi’ dimana pergantian mode dan tata busana dimanfaatkan industri untuk kepentingan bisnis semata. Sangat memprihatinkan ketika semangat atau mungkin juga kebangkitan keagamaan harus takluk pada pentas konsumsi massa.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan kapitalisme global membuat, bahkan memaksa, momen bulan puasa tak lebih hanya menjadi komoditas yang terus menerus diproduksi demi sebuah keuntungan bisnis. Umat Islam diarahkan pada suatu kondisi dimana seolah-olah ‘hasrat’ mengkonsumsi di bulan Ramadhan selalu dilegitimasi oleh ‘kebutuhan’ rohaniah mereka. Sepertinya ibadah puasa nantinya kurang sempurna jika tidak mengkonsumsi makanan serta minuman tertentu atau segala yang disodorkan oleh media dan iklan dengan mengatasnamakan agama. Berbagai kegiatan  bisnis diselenggarakan di bulan puasa sekaligus menciptakan kebutuhan yang bukan lagi esensial tapi artifisial.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam menempatkan ibadah puasa pada posisi yang istimewa. Puasa merupakan ibadah yang memadukan keikhlasan hubungan antara manusia dengan Allah SWT (hablum minallah) dan keihklasan hubungan antara manusia dengan manusia (hablum minannas). Secara pribadi puasa merupakan media mendekatkan diri kepada Allah SWT. Bahkan, karena sangat pribadi Allah SWT sendirilah yang akan membalasnya. Dalam sebuah hadits qudsi disebutkan, “Semua amal perbuatan Bani Adam menyangkut dirinya pribadi kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku, dan karena itu Akulah yang langsung membalasnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara dari sisi sosial puasa mengajarkan untuk lebih peduli kepada sesame. Memperbanyak amal sholeh dan bukan menumpuk nafsu konsumtif sendiri. Puasa hendak mengajarkan bagaimana mengendalikan diri dalam kehidupan bermasyarakat. Oleh sebab itu, Islam pun menegaskan kepedulian social ini dengan kewajiban mengeluarkan zakat fitrah di akhir Ramadhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui dua dimensi itulah puasa bertujuan membentuk pribadi-pribadi yang bertakwa. Takwa adalah derajat paling tinggi di sisi Allah SWT dan mustahil dicapai melalui pemenuhan nafsu pribadi yang bersifat material dan simbolik. Sebab ketakwaan seseorang tidak dinilai dari symbol-simbol artificial yang menempel di tubuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puasa ingin mengajak umat Islam untuk membebaskan diri dari pemenuhan aneka kebutuhan simbolik. Termasuk membebaskan diri dari belenggu konsumerisme. Ramadhan sebentar lagi. Semoga kita bisa menyambutnya dengan penuh semangat dan menjadikannya sebagai momentum kebangkitan keagamaan yang tidak berhenti pada level simbolik semata. Amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marhaban ya Ramadhan.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9080682297008997308-2344504780907533718?l=blacknovembers.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blacknovembers.blogspot.com/feeds/2344504780907533718/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9080682297008997308&amp;postID=2344504780907533718&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9080682297008997308/posts/default/2344504780907533718'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9080682297008997308/posts/default/2344504780907533718'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blacknovembers.blogspot.com/2010/07/puasa-melawan-konsumerisme.html' title='PUASA; Melawan Konsumerisme'/><author><name>Fahmi FR</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02538757189290100290</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_7GV8f6ADW_Y/Sgl_2DmUa9I/AAAAAAAAAHA/u6dtkqt1UC0/S220/profile.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9080682297008997308.post-1678712409530668966</id><published>2009-05-05T22:30:00.000-07:00</published><updated>2009-05-13T04:05:30.510-07:00</updated><title type='text'>Krisis Global Ancam Pekerja Media *</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_7GV8f6ADW_Y/SgE3UYTA27I/AAAAAAAAAG4/pza8x4c1u6E/s1600-h/IMG_0910.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_7GV8f6ADW_Y/SgE3UYTA27I/AAAAAAAAAG4/pza8x4c1u6E/s320/IMG_0910.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5332604257042488242" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ratusan jurnalis yang tergabung dalam Aliansi Jurnalis Independen (AJI) turun ke jalan memperingati May Day - Hari Buruh Internasional, Jumat (1 Mei 2009)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Krisis keuangan global melibas batas negara dan merontokkan semua sektor industri, termasuk media. Pada satu konferensi di Hongkong, International Federation of Journalist (IFJ), dua bulan silam, mengungkapkan data sedikitnya 12 ribu pekerja media di dunia terancam kehilangan pekerjaan dalam kurun 2008-2009. Sekitar 90 persen alasan pemecatan massal itu akibat bangkrutnya media tempat mereka bekerja. Sisanya, perusahaan mengalami kesulitan ekonomi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia, iklim industri juga mulai terlihat lesu. Data Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Depnakertrans) RI, selama periode Mei 2008 hingga April 2009, sekitar 40.874 pekerja di Indonesia telah dirumahkan akibat krisis. Rinciannya, 90 persen pekerja berasal dari sektor manufaktur, 6 persen di sektor jasa dan keuangan, dan 4 persen lainnya dari sektor ekspor, impor dan jasa lainnya. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sektor industri media, para pekerja media di Indonesia tampaknya juga hidup di bawah bayang-bayang krisis global itu. Data Depnakertrans, sejak November 2008 hingga April 2009, sekitar 94 persen pekerja media di Kalimantan, Sulawesi, Jawa Timur, Jawa Barat, Sumatera, DKI Jakarta mengalami pemutusan hubungan kerja. Dari 94 kasus, 67 persen akibat perusahaan media mengalami kesulitan keuangan. Lalu 30 persen lantaran pensiun dini, dan 2 persen diputihkan masa kerjanya dengan dikontrak kembali. Sedangkan 1 persen akibat kasus sengketa pendirian serikat pekerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup dan berdiri dalam ruang kompetisi antar-media yang tinggi, pasar yang kian kritis, ketidaan regulasi tentang modal, dan struktur ekonomi makro ekonomi di Indonesia yang semakin sulit seperti sekarang ini, tentunya berakibat buruk pada upah  pekerja media.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pada situasi krisis, satu masalah yang butuh perhatian serius adalah tak adanya standar pengupahan jurnalis. Ada media yang bisa memberikan upah besar, tapi banyak pula media yang hanya mampu memberi upah pas-pasan bahkan di bawah UMP (Upah Minimum Provinsi) dan UMK (Upah Minimum Kota).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rendahnya upah jurnalis berdampak pada kualitas karya jurnalistik. Lebih jauh, kondisi buruknya kesejahteraan wartawan akan berdampak buruk pada tugas bersama merawat ruang demokrasi yang sedang dibangun di negeri ini. Upah rendah menyebabkan jurnalis menjadi pragmatis, rentan terhadap suap, dan pada gilirannya menjadi tidak independen terhadap kekuatan di luar profesinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itulah, AJI memandang pembangunan serikat pekerja adalah salah satu solusi bagi pekerja media di Indonesia. Selain memperjuangkan hak kesejahteraan, serikat juga menjadi ajang bagi pekerja media memperkuat daya tawar dirinya di tengah krisis. Melalui serikat pekerja pula, jurnalis memperkuat kapasitas profesionalnya dengan karya yang bermutu dan penghargaan yang pantas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan kondisi tersebut, melalui momentum perayaan Hari Buruh Sedunia (Mayday) 2009, Aliansi Jurnalis Independen - yang berafiliasi kepada International Federation 0f Journalist's (IFJ) yang memiliki 600.000 anggota dan memiliki cabang di 120 negara - menyatakan sikap sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Meminta manajemen perusahaan media untuk tidak menjadikan krisi global sebagai dalih menekan kebebasan berserikat, termasuk melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) atau 'memutihkan' status pekerja tetap menjadi pekerja kontrak dan outsourcing.&lt;br /&gt;2. Meminta manajemen perusahaan media melakukan transparansi keuangan guna mengetahui  alokasi anggaran setiap bagian dari proses produksi, untuk mencegah pemborosan atau melakukan penghematan.&lt;br /&gt;3. Meminta manajemen perusahaan media mengalihkan hasil penghematan untuk memperbesar presentase anggaran bagi kesejahteraan pekerja.&lt;br /&gt;4. Meminta manajemen perusahaan media mempersempit kesenjangan gaji terendah dan gaji tertinggi (pimpinan) untuk memenuhi rasa keadilan bersama dan melakukan penghematan.&lt;br /&gt;5. Mendesak pemerintah mencegah upaya PHK massal di perusahaan media dengan tetap melindungi hak-hak pekerja seperti hak berorganisasi dan hak untuk mendapatkan kesejahteraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 1 Mei 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) Pernyataan sikap Hari Buruh Sedunia (May Day) AJI Indonesia.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9080682297008997308-1678712409530668966?l=blacknovembers.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blacknovembers.blogspot.com/feeds/1678712409530668966/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9080682297008997308&amp;postID=1678712409530668966&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9080682297008997308/posts/default/1678712409530668966'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9080682297008997308/posts/default/1678712409530668966'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blacknovembers.blogspot.com/2009/05/krisis-global-ancam-pekerja-media.html' title='Krisis Global Ancam Pekerja Media *'/><author><name>Fahmi FR</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02538757189290100290</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_7GV8f6ADW_Y/Sgl_2DmUa9I/AAAAAAAAAHA/u6dtkqt1UC0/S220/profile.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_7GV8f6ADW_Y/SgE3UYTA27I/AAAAAAAAAG4/pza8x4c1u6E/s72-c/IMG_0910.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9080682297008997308.post-5489251051762653374</id><published>2009-04-30T05:59:00.000-07:00</published><updated>2009-05-13T04:08:45.887-07:00</updated><title type='text'>Perempuan Dalam Pertaruhan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_7GV8f6ADW_Y/Sfmn7jcb7jI/AAAAAAAAAGw/-fWwutBgzvU/s1600-h/Film+21+Pertaruhan.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_7GV8f6ADW_Y/Sfmn7jcb7jI/AAAAAAAAAGw/-fWwutBgzvU/s320/Film+21+Pertaruhan.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5330476275538325042" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ucu Agustin, Lucky Kuswandi, Nia Dinata, dan Ani Ema Susanti saat menghadiri pemutaran perdana film dokumenter PERTARUHAN di Bioskop 21 Grage Mall Cirebon, Senin (27/04).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Libur Senin kemarin cukup menyenangkan. Tak cuma bisa istirahat, melupakan sejenak rutinitas kerja, tapi juga bisa jalan-jalan ke Grage Mall dan nonton di bioskop 21. Gratis pula! Saat duit gaji belum turun, duit di dompet cekak, memang paling asyik dapet yang gratisan. Penting tuh! Hehe… &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seminggu sebelumnya, seorang teman yang aktif di Fahmina Institute memberiku tiket gratis nonton pemutaran film dokumenter bertajuk PERTARUHAN. Sebuah antologi film dokumeter garapan Kalyana Shira Films dan Kalyana Shira Foundation yang selama ini hanya diputar di bioskop-bioskop Jakarta dan Bandung. Di Jakarta, PERTARUHAN sudah dirilis sejak 10 Desember tahun lalu. Lumayan lama juga. Tapi, bagi aku dan warga Cirebon yang menonton, PERTARUHAN adalah sebuah suguhan film yang baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemutaran perdana film PERTARUHAN di Cirebon dihadiri juga oleh sang produser Nia Dinata bersama sejumlah penulis/sutradara film dokumenter PERTARUHAN. Antara lain Ucu Agustin, Lucky Kuswandi, dan Ani Ema Susanti. Film berdurasi 106 menit yang terdiri dari 4 judul ini merupakan dokumenter kolektif yang berkisah tentang berbagai kontroversi seputar tubuh perempuan yang telah lama menjadi perdebatan di sekitar kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERTARUHAN dimulai dengan MENGUSAHAKAN CINTA karya Ani Ema Susanti. Sebuah kisah tentang kehidupan buruh migran di Hongkong. Riantini dan Ruwati adalah WNI yang memilih menjadi TKW di Hongkong karena pendapatan yang lebih memadai daripada di Indonesia. Selain itu, di Hongkong mereka juga mendapatkan kebebasan dalam otonomi tubuh. Seperti Riantini, di perantauan ibu satu anak ini memilih menjadi seorang lesbian. Namun ia takut membawa pulang hubungan cintanya saat kembali ke Indonesia. Sementara Ruwati adalah seorang lajang yang usianya sudah mencapai kepala empat. Ruwati kerap gamang karena keperawanannya sempat dipertanyakan oleh Yanto, calon suaminya di Malang, Jawa Timur, gara-gara ia pernah menjalani operasi melalui alat kelaminnya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian PERTARUHAN membawa para penonton melihat UNTUK APA? yang menggambarkan semrawutnya kepercayaan dan konteks di balik praktek sunat perempuan. Di negeri ini, praktek sunat atau khitan pada anak perempuan diterima secara luas oleh berbagai kalangan dengan alasan untuk ‘membersihkan’ anak tersebut dari spirit setan yang akan mengarahkannya menjadi liar. Meski demikian, sampai sekarang masih banyak orang yang tidak sadar akan adanya praktek itu. Dalam film karya Ucu Agustin ini terjadi diskusi atau mungkin perdebatan sejumlah tokoh perempuan terkait praktek sunat pada perempuan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih berkaitan dengan tubuh perempuan. Selanjutnya PERTARUHAN membuka mata kita betapa susahnya perempuan dengan status ‘lajang’ ketika hendak memeriksakan kesehatan reproduksinya. NONA NYONYA? mengisahkan perempuan-perempuan ibu kota yang berusaha mendapatkan akses pelayanan kesehatan namun terbentur persepsi moral pihak obstetri dan ginekolog. Persepsi para petugas medis (kebidanan atau kandungan) terhadap perempuan lajang adalah mereka yang tidak berhubungan seksual. Oleh sebab itu, jika ada pasien berstatus lajang yang datang untuk minta diperiksa, petugas medis justru lebih sibuk ‘memeriksa’ moralitas pasien yang bersangkutan. Bahkan seorang dokter berceramah tentang moral secara panjang lebar lebih dulu ketika seorang perempuan lajang meminta diperiksa Pap Smear. Intinya NONA NYONYA? mempertanyakan pentingnya kesehatan versus penilaian moral. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir, PERTARUHAN ditutup RAGAT’E ANAK dengan cerita dua perempuan, Nur dan Mira. Mereka berdua adalah pekerja seks di Gunung Bolo Tulungagung, Jawa Timur. Gunung Bolo adalah kompleks kuburan Cina yang berbentuk bukit. Di malam hari, kompleks kuburan ini beralih fungsi menjadi lokasi prostitusi liar. Namun, selain berprofesi sebagai pekerja seks, Nur dan Mira juga bekerja sebagai pemecah batu. Pagi hari mereka memecah batu dan malamnya bekerja di Gunung Bolo. Meski sepanjang hari mereka bekerja keras namun pendapatannya tidak pernah mencukupi. Semua itu mereka lakukan untuk membiayai kebutuhan anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tertarik untuk nonton? coba aja klik di http://www.kalyanashirafound.org dan cari info bagaimana untuk mendapatkan DVD film PERTARUHAN. Katanya sih mereka akan bagi-bagi DVD film PERTARUHAN kepada masyarakat umum yang menginginkannya. Mudah-mudahan dibagi secara gratis juga. Hehehe... []&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9080682297008997308-5489251051762653374?l=blacknovembers.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blacknovembers.blogspot.com/feeds/5489251051762653374/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9080682297008997308&amp;postID=5489251051762653374&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9080682297008997308/posts/default/5489251051762653374'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9080682297008997308/posts/default/5489251051762653374'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blacknovembers.blogspot.com/2009/04/perempuan-dalam-pertaruhan.html' title='Perempuan Dalam Pertaruhan'/><author><name>Fahmi FR</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02538757189290100290</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_7GV8f6ADW_Y/Sgl_2DmUa9I/AAAAAAAAAHA/u6dtkqt1UC0/S220/profile.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_7GV8f6ADW_Y/Sfmn7jcb7jI/AAAAAAAAAGw/-fWwutBgzvU/s72-c/Film+21+Pertaruhan.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9080682297008997308.post-5962918214893011481</id><published>2009-01-11T08:14:00.001-08:00</published><updated>2009-05-13T04:11:05.380-07:00</updated><title type='text'>Perang Agama, Ras, Atau...</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_7GV8f6ADW_Y/SWodnUwGr9I/AAAAAAAAAGM/lj34oNnSFnQ/s1600-h/gaza.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 202px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_7GV8f6ADW_Y/SWodnUwGr9I/AAAAAAAAAGM/lj34oNnSFnQ/s320/gaza.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5290073273722646482" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Israel memang nyusahin. Kita semua jadi repot. Harus demo, harus mengutuk, harus wiridan. Qunut nazilah. Diskusi sana-sini. Belum keluar duitnya. Utus orang untuk bantu penanganan kesehatan. Macam-macam. Anda semua juga pasti jadi repot. Ngerusak acara. Ngaco irama. Program kita jadi ekstra ini-itu. Hati jadi rusuh. Pikiran mesti menanggung beban dan mengolah hal-hal yang mestinya tak perlu. Saya diserbu SMS. Ada yang info saja, ada yang mobilisasi. Ada yang menuntut supaya saya turut menyatakan kutukan, seolah-olah ada yang tertarik memerlukan kutukan saya. Lebih-lebih lagi seakan-akan kutukan saya akan mampu mengubah arah terbangnya nyamuk. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kenapa sih Cak kok semua pembicaraan tentang penyerbuan Israel ke Gaza hanya satu saja temanya: kekejaman?" kata sepotong SMS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya jawab dengan jengkel, "Pertama, kok nanya saya? Kedua, emang saya tahu apa tentang itu? Ketiga, orang lagi perang, kita diskusi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kenapa tidak ada analisis yang agak luas, yang historis-komprehensif tentang segala hal yang melatarbelakangi konflik itu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Walah! Mana saya paham...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kan harus diperjelas oleh kita semua bahwa konflik Israel-Palestina itu konflik ras, konflik agama, atau apa? Kalau ras, kan banyak juga warga Palestina yang beragama Nasrani. Apakah ini perang agama Yahudi melawan Islam-Kristen? Kalau ya demikian, mestinya semua umat Islam di dunia bahu-membahu dengan semua umat Protestan dan Katolik melawan Yahudi. Hancur dong Israel ngelawan Arab Saudi dan negara-negara Islam lain, Indonesia, gabung sama Amerika, Jerman, Inggris dll. Dengan catatan bahwa agama mayoritas penduduk menentukan sikap pemerintahnya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya, lantas?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Orang beragama Yahudi kan juga tidak hanya ada di Israel, tapi juga di mana-mana, terutama negara-negara Barat, bahkan di Amerika Serikat banyak menguasai berbagai kunci strategis di bidang politik dan perekonomian. Berarti akan terjadi multikonflik di berbagai negara ndak karu-karuan di antara pemeluk tiga agama itu, kecuali Indonesia...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya goda, "Indonesia tak kalah serem konflik internalnya. Kan Yahudi itu bukan tidak ada di Indonesia. Jewish mirip-mirip Jawa, J dan W-nya. Ibu kota Israel saja Java Tel Aviv. Banyak kantor Yahudi di negara-negara Barat selalu pakai kata "Java". Ukiran hias di mahkota para rabi Yahudi mirip ukiran pintu bagian atas di sejumlah tempat pesisir utara Pulau Jawa. Makanya, kalau memang Israel jantan dan punya nyali, suruh serbu Indonesia, ayo kalau berani!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya serius, Cak."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya juga serius. Kalau Israel berani nyerang kita, persoalan PHK menjadi beres. Jutaan orang yang tak punya kerjaan, jadi punya kerjaan. Pasti senang teman-teman itu kalau ada situasi perang. Hidup nggak ada harapan kok ditantang berkelahi, ya ayo!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jadi, menurut Cak Nun, itu perang agama atau bukan?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Emang saya ahli Timur Tengah? Pakar agama? Nyang bener aje...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Atau perang ras?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau saya sih ndak penting ras, agama, atau apa pun, pokoknya tidak perang."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau ras, kayaknya nggak juga. Kan di Israel sendiri ada demo menentang keputusan perdana menteri mereka yang memutuskan penyerbuan itu. Orang Yahudi kan tidak semua Zionis. Banyak juga orang Yahudi yang anti-Zionisme, baik dari kalangan Yahudi Askinazim maupun Sepharadim. Bahkan bukan tidak ada orang Yahudi yang beragama Kristen atau Islam. Atau malah jangan-jangan ada juga Yahudi beragama Kristen atau Islam tapi pro-Zionisme."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Anda ini bingung kok ngajak-ngajak saya!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya ini mau tahu itu sebenarnya konflik apa? Kok nggak ada ujungnya, nggak ada selesainya, kayaknya sepanjang masa."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Salah alamat kalau nanya ke saya. Yang paling efektif dan produktif, bertanya kepada Tuhan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa urusannya ama Tuhan?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lho, cacing saja punya garis keterkaitan yang logis rasional dengan Tuhan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Emang Tuhan mungkin terlibat dalam peperangan?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya jadi gatal ingin menggoda lebih lanjut. "Kan seolah-olah Tuhan menggambarkan bahwa kehidupan ini begini: Ia memperjalankan manusia di malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa. Kan begitu di Surah Al-Isro. Hidup ini ulang-alik berdialektika dari dan di antara kegembiraan dan duka, di antara cahaya dan kegelapan, di antara yang menyenangkan dan yang menyusahkan, di antara yang bikin hati semringah dengan yang bikin hati gerah. Kalau ingat Masjidil Haram, hati senang. Lantas ingat Masjidil Aqsa, hati jadi rusuh lagi. Dan itu semua berlangsung di malam hari. Artinya hidup ini kegelapan: kita nggak pernah tahu apa yang akan terjadi semenit mendatang. Apa kita penjual nasi, sopir taksi, pengusaha besar, pejabat tinggi, atau siapa pun: tidak tahu persis dagangan kita laku berapa, saham kita anjlok atau tidak, di depan sana ada calon penumpang nyegat taksi saya atau tidak. Hidup adalah malam hari. Dan seluruh SMS Anda itu seratus persen mencampakkan&lt;br /&gt;saya ke kegelapan malam...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Gini aja, deh," kata SMS itu lagi, "kenapa sih kok Arab Saudi dan negara-negara Arab Islam tetangga Palestina tidak ngebantuin? Bahkan Iran yang dulu mengancam akan kirim rudal, nggak juga sampai sekarang."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mau saya teleponkan Pak Ahmadinejad sekarang?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya serius, Cak"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya tidak hanya serius mikirin Palestina, tapi juga makin stres mikirin pulsa....". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Emha Ainun Nadjib/Koran Tempo/6 Januari 2009/PadhangmBulanNetDok)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9080682297008997308-5962918214893011481?l=blacknovembers.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blacknovembers.blogspot.com/feeds/5962918214893011481/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9080682297008997308&amp;postID=5962918214893011481&amp;isPopup=true' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9080682297008997308/posts/default/5962918214893011481'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9080682297008997308/posts/default/5962918214893011481'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blacknovembers.blogspot.com/2009/01/perang-agama-ras-atau.html' title='Perang Agama, Ras, Atau...'/><author><name>Fahmi FR</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02538757189290100290</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_7GV8f6ADW_Y/Sgl_2DmUa9I/AAAAAAAAAHA/u6dtkqt1UC0/S220/profile.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_7GV8f6ADW_Y/SWodnUwGr9I/AAAAAAAAAGM/lj34oNnSFnQ/s72-c/gaza.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9080682297008997308.post-834936973226728222</id><published>2008-09-27T10:22:00.000-07:00</published><updated>2009-08-28T22:11:07.706-07:00</updated><title type='text'>Selamat Mudik - Selamat Sampai Tujuan</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kecelakaan di jalan raya adalah sumber utama kematian, luka-luka dan cacat dalam masyarakat modern. Bahkan tingkat kematian yang tinggi dan luka-luka di jalan raya diterima oleh pemerintah dan warga Negara pada umumnya hampir tanpa keberatan. Namun itu semua bisa dikurangi secara masif jika kebijakan-kebijakan lebih mementingkan keselamatan umum.&lt;/span&gt; (The End of The Road, Wolfgang Zuckermann)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siang itu, raut muka seorang pria masih dibalut kesedihan mendalam. Air matanya terlihat bercampur dengan sisa air wudlu. Aku dan rekanku langsung mendekati usai ia mengurus administrasi di Kamar Jenazah RSUD Gunung Jati Cirebon. Niatku mewawancara dia tentang musibah yang baru saja ia alami. Namun rekannya langsung menolak. “Maaf mas, kita masih shock,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mundur dan mengurungkan tugasku untuk wawancara. Aku mencoba mengerti dan menghormati keadaannya. Ia baru saja kehilangan adik tercintanya yang meninggal dalam kecelakaan di jalur Pantura Palimanan Cirebon saat hendak mudik ke Banyumas, Jawa Tengah. Harapan untuk bertemu dan berkumpul dengan keluarga saat lebaran nanti seakan musnah. Terlebih melihat kondisi sang adik yang diboncengnya tewas dengan kondisi mengenaskan. Kepala pecah dan tulang dada remuk tergilas roda truk kontainer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siang tadi, sepasang suami istri terbaring di UGD RSUD Gunung Jati Cirebon dengan kondisi luka parah. Mereka baru saja mengalami kecelakaan di Jalur Pantura Cirebon, tepatnya di daerah Ender saat hendak mudik ke Magetan Jawa Timur. Sepeda motor yang mereka tumpangi terjatuh kemudian dihantam bus dari arah belakang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebaran sebentar lagi. Tradisi yang lekat dengan lebaran adalah mudik. Tiap tahunnya jumlah pemudik terus mengalami peningkatan. Jutaan orang hampir secara bersamaan pulang ke kampung halaman mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Transportasi darat masih menjadi pilihan kebanyakan pemudik. Seperti dengan menggunakan mobil pribadi, bus umum, kereta api, bahkan sepeda motor. Belakangan pilihan mudik menggunakan sepeda motor terus meningkat. Tahun ini pemerintah memperkirakan jumlah pemudik yang menggunakan sepeda motor sekitar 2,5 juta pemudik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya sepeda motor bukanlah jenis kendaraan yang layak untuk digunakan sebagai sarana transportasi jarak jauh. Apalagi dengan membawa barang bawaan yang cukup banyak bahkan mengikutsertakan anak kecil atau balita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomena mudik dengan sepeda motor bukanlah tanpa sebab. Secara garis besar ini merupakan imbas dari kondisi perekonomian secara keseluruhan di negeri ini. Masyarakat, terutama kalangan menengah ke bawah, mencari berbagai alternatif agar mereka tetap bisa mudik dengan biaya yang lebih murah. Akhirnya pilihan tersebut jatuh pada penggunaan sepeda motor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu maraknya berbagai jenis pembiayaan kredit sepeda motor juga turut menjadi faktor tersendiri. Berbagai kemudahan ditawarkan kepada masyarakat untuk dapat memiliki kendaraan roda dua ini. Cukup dengan uang muka ratusan ribu saja siapapun bisa punya motor meski secara kredit. Tidak heran ketika sepeda motor menjadi kendaraan primadona di masyarakat termasuk untuk digunakan mudik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski tren mudik dengan sepeda motor cenderung meningkat, ternyata tidak serta merta membuat moda transportasi lainnya sepi. Bus umum, kereta api, kapal laut, dan pesawat terbang masih tetap disesaki para pemudik. Ini menunjukkan bahwa tradisi mudik benar-benar melibatkan begitu banyak warga negeri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari apapun jenis transportasi yang digunakan tentunya keselamatan harus menjadi pertimbangan yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Unsur keselamatan inilah yang kadang terabaikan begitu saja. Sehingga berbagai peristiwa kecelakaan terus membayangi jalannya arus mudik dari tahun ke tahun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, pemerintah kita pun punya nilai kurang bagus dalam mengurusi keselamatan transportasi publik. Anjloknya sejumlah kereta api, terbakar dan tenggelamnya kapal laut, hingga meledaknya pesawat terbang yang berakhir tanpa kejelasan. Lengkap sudah kecelakaan yang menimpa berbagai moda transportasi di negeri ini dari darat, laut, sampai udara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain motif ekonomi, muncul kecurigaan, bahwa maraknya pemudik yang menggunakan sepeda motor merupakan bentuk ketidakpercayaan masyarakat akan keselamatan transportasi public. Dengan mengendarai sepeda motor, setidaknya, kendali keselamatan ada di tangan mereka sendiri. Kelayakan kendaraan yang ditumpangi pun bisa mereka pastikan sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bandingkan jika mereka harus menggunakan transportasi umum. Selain harus berdesakan, mereka pun kadang harus berurusan dengan calo tiket, pelaku tindak kriminal, mungkin juga oknum petugas yang nakal dan sebagainya. Belum lagi kelayakan alat transportasi yang tidak bisa mereka pastikan sendiri. Sebab, prosedur pemeriksaan kelaikan jalan pun tak jarang dilewatkan begitu saja. Dengan kondisi tersebut sulit kiranya memastikan bahwa penumpang akan mudik dengan aman, nyaman, tenang, dan selamat sampai tujuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir, faktor yang tak kalah penting adalah faktor psikologis masyarakat kita. Bagi mereka, mungkin, sampai di kampung halaman dengan menggunakan sepeda motor adalah sebuah kebanggaan. Dimana mereka harus menempuh jarak puluhan bahkan ratusan kilometer dan ‘bertarung’ di kerasnya jalur Pantura.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai saudara-saudaraku, para pemudik, apapun kendaraan yang digunakan, utamakan keselamatan. Ungkapan alon-alon asal kelakon atau  ngebut benjut, sepertinya tak ada salahnya untuk dipahami dan dipraktekkan di perjalanan pulang kampung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SELAMAT MUDIK – SELAMAT SAMPAI TUJUAN.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9080682297008997308-834936973226728222?l=blacknovembers.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blacknovembers.blogspot.com/feeds/834936973226728222/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9080682297008997308&amp;postID=834936973226728222&amp;isPopup=true' title='8 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9080682297008997308/posts/default/834936973226728222'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9080682297008997308/posts/default/834936973226728222'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blacknovembers.blogspot.com/2008/09/selamat-mudik-selamat-sampai-tujuan.html' title='Selamat Mudik - Selamat Sampai Tujuan'/><author><name>Fahmi FR</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02538757189290100290</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_7GV8f6ADW_Y/Sgl_2DmUa9I/AAAAAAAAAHA/u6dtkqt1UC0/S220/profile.JPG'/></author><thr:total>8</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9080682297008997308.post-6637001440204730176</id><published>2008-09-22T01:52:00.000-07:00</published><updated>2008-09-22T01:59:34.581-07:00</updated><title type='text'>Sepuluh Hari Terakhir</title><content type='html'>Ramadhan telah memasuki sepuluh hari terakhir. Beberapa hari ini aku mendengar obrolan bernuansa evaluatif dari teman dan rekan kerja. “Eh, kamu udah batal berapa hari?” tanya seorang teman. “Alhamdulillah, sampai hari ini puasaku belum bolong,” jawab teman yang lain. “Wah, kalau aku udah batal tiga hari. Maklum, aku kan cewek. Hari ini aja aku nggak puasa. Lagi dapet nih,” sahut seorang teman perempuan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan Anda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak usah dijawab dulu. Sebab, apa kepentingan kita dengan menanyakan hal itu kepada orang lain. Selain sekedar sebagai bahan obrolan menunggu bedug Maghrib, misalnya. Bukankah puasa adalah salah satu ibadah yang sangat pribadi. Yakni antara hamba dengan Tuhannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, aku tidak punya hak untuk menyalahkan atau melarang orang bertanya tentang itu. Aku hanya berpendapat bahwa, mungkin seperti itulah pemaknaan puasa yang ada di masyarakat kita. Bulan puasa seakan telah dijadikan sebagai sebuah momen tahunan yang harus disambut dan dirayakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu bulan ibadah yang awalnya bertujuan menempa hamba Tuhan menjadi pribadi yang bertakwa, namun kemudian secara terus-menerus, dari tahun ke tahun, diarahkan menjadi rutinitas tahunan di masyarakat yang penuh dengan perayaan. Tak heran, jika di bulan puasa, ternyata masyarakat lebih sibuk, lebih antusias, untuk memikirkan makanan. Dan berbagai simbol yang telah sengaja dilekatkan pada bulan Ramadhan.     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi ini semakin parah ketika dihadapkan dengan sistem-sistem ekonomi dan politik yang lebih luas. Dalam konteks ini, puasa sebagai bentuk kewajiban agama, melalui pemaknaan ekonomis, tertransfomasikan menjadi komoditas. Lihat saja, tiap menjelang Ramadhan, bahkan sejak jauh-jauh hari, masyarakat sudah dijejali dengan album religi, busana muslim, dan segala tetek bengek lain mengatasnamakan Ramadhan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga, saat menjalankan puasa, masyarakat digiring untuk merasa tidak puas, kurang afdhol, kurang khusyu’, ketika mereka belum atau tidak mengkonsumsi segala bentuk komoditas yang ditawarkan di pasar. Mungkin sebagian dari kita ada yang menganggap ini sebagai sebuah keberkahan bulan suci Ramadhan. Karena segala yang ditawarkan akan habis terjual di pasaran. Benarkah ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puasa atau tidak puasa, itu sudah menjadi tanggungjawab tiap individu yang menjalankannya. Semoga Tuhan menerima ibadah puasa dan ibadah-ibadah kita lainnya di bulan Ramadhan ini. Amin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9080682297008997308-6637001440204730176?l=blacknovembers.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blacknovembers.blogspot.com/feeds/6637001440204730176/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9080682297008997308&amp;postID=6637001440204730176&amp;isPopup=true' title='6 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9080682297008997308/posts/default/6637001440204730176'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9080682297008997308/posts/default/6637001440204730176'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blacknovembers.blogspot.com/2008/09/sepuluh-hari-terakhir.html' title='Sepuluh Hari Terakhir'/><author><name>Fahmi FR</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02538757189290100290</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_7GV8f6ADW_Y/Sgl_2DmUa9I/AAAAAAAAAHA/u6dtkqt1UC0/S220/profile.JPG'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9080682297008997308.post-5379884213759433964</id><published>2008-09-18T01:57:00.000-07:00</published><updated>2008-09-18T02:37:11.543-07:00</updated><title type='text'>ZLT = Zakat Langsung Tewas</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_7GV8f6ADW_Y/SNIgOC7fIJI/AAAAAAAAAFk/kLDOjCpNKLU/s1600-h/tragedi+pasuruan.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_7GV8f6ADW_Y/SNIgOC7fIJI/AAAAAAAAAFk/kLDOjCpNKLU/s320/tragedi+pasuruan.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5247291941516681362" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link style="font-family: georgia;" rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CMSI%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:Verdana; 	panose-1:2 11 6 4 3 5 4 4 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1593833729 1073750107 16 0 415 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;span style="font-family: georgia;font-family:Verdana;font-size:100%;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;Awal pekan ini kita dikejutkan dengan peristiwa memilukan yang terjadi di Pasuruan, Jawa Timur. 21 ibu-ibu tewas dan puluhan lainnya luka-luka saat ribuan warga miskin antri untuk mendapatkan uang zakat sebesar 30 ribu rupiah dari seorang pengusaha.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;Cara pembagian zakat harta secara langsung masih banyak dilakukan oleh dermawan-dermawan di sekitar kita. Mereka biasanya mengundang atau mengumpulkan warga miskin untuk menerima uang. Dan kebanyakan diadakan pada bulan Ramadhan di tiap tahunnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;Entah, apa alasan para dermawan yang masih membagikan zakat harta secara langsung. Padahal saat ini sudah banyak lembaga atau badan amil zakat yang siap menyalurkan zakat dari masyarakat. Sejumlah pihak menduga, hal ini dikarenakan ada krisis kepercayaan masyarakat terhadap kinerja lembaga atau badan yang bertugas mengelola dana zakat, infaq, dan shodaqoh.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;Dulu, waktu masih SMA, aku pernah ditugaskan untuk mengajar anak-anak di sebuah Madrasah. Saat itu aku kebagian untuk menyampaikan materi tentang akidah akhlak. Ada beban sebenarnya ketika aku harus jadi ‘guru’ pelajaran yang satu ini. &lt;i style=""&gt;Lha wong&lt;/i&gt; hingga hari ini saja aku belum tentu menjalankan hidup dengan akhlakul karimah. Hehehe…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;Satu bagian pelajaran yang gampang aku ingat sampai saat ini adalah tentang bahaya berbohong. Dalam buku pelajaran itu disebutkan bahwa berbohong adalah tindakan tidak terpuji dan harus dihindari. Jika kita terbiasa berbohong, berarti kita sedang mendekati ancaman bahaya berbohong. Saat kita berkata jujur sekalipun, orang tidak akan pernah percaya kepada kita. Itulah bahaya dari kebiasaan berbohong.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;Segala bentuk kebohongan yang ada di sekitar kita, di rumah, di kampus, di tempat kerja, kantor pemerintahan, dan sebagainya sangat mungkin menumbuhkan krisis kepercayaan terhadap para pelakunya. Termasuk kepada para pengelola dana zakat, infaq, dan shodaqoh selama ini. Sehingga para dermawan lebih senang membagikan langsung zakat harta mereka.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;Zakat tentu tidak sama dengan Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang pembagiannya penuh skandal, manipulasi, dan korup. Jika kasus Pasuruan kemarin tidak dijadikan pelajaran untuk segera membenahi pengelolaan zakat di negeri ini, maka Departemen Agama sebaiknya segera membuat program Zakat Langsung Tunai (ZLT). Dan kemudian aku akan langsung memplesetkannya menjadi Zakat Langsung Tewas!&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9080682297008997308-5379884213759433964?l=blacknovembers.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blacknovembers.blogspot.com/feeds/5379884213759433964/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9080682297008997308&amp;postID=5379884213759433964&amp;isPopup=true' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9080682297008997308/posts/default/5379884213759433964'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9080682297008997308/posts/default/5379884213759433964'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blacknovembers.blogspot.com/2008/09/zlt-zakat-langsung-tewas.html' title='ZLT = Zakat Langsung Tewas'/><author><name>Fahmi FR</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02538757189290100290</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_7GV8f6ADW_Y/Sgl_2DmUa9I/AAAAAAAAAHA/u6dtkqt1UC0/S220/profile.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_7GV8f6ADW_Y/SNIgOC7fIJI/AAAAAAAAAFk/kLDOjCpNKLU/s72-c/tragedi+pasuruan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9080682297008997308.post-7845626042158865945</id><published>2008-09-06T13:28:00.000-07:00</published><updated>2009-03-12T04:24:55.508-07:00</updated><title type='text'>Dunia Baru - Semangat Baru</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_7GV8f6ADW_Y/SMLpJBwvCTI/AAAAAAAAAFM/LpUKW9_UHEM/s1600-h/Color+Bar+gede+copy.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5243009257513617714" style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center;" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_7GV8f6ADW_Y/SMLpJBwvCTI/AAAAAAAAAFM/LpUKW9_UHEM/s320/Color+Bar+gede+copy.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Menjalani hal baru memang (selalu) menyenangkan. Tapi, segala sesuatu yang baru tentu butuh penyesuaian, butuh waktu untuk proses adaptasi. Sampai kita benar-benar menyelami pekerjaan itu hingga menjadi suatu hal yang tak pantas disematkan kata ‘baru’. Berapa lama waktu yang dibutuhkan? Pastinya tergantung pribadi masing-masing yang menjalankannya. Bukan begitu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah hengkang dari tempat kerjaku yang dulu di media cetak, kini aku merambah dunia baru, dunia (per) televisi (an). Hampir satu bulan ini aku bekerja di Radar Cirebon Televisi (Jawa Pos Grup) sebagai reporter. Sebuah stasiun TV lokal yang cukup menjanjikan, katanya. Radar Cirebon Televisi (RCTV) merupakan stasiun TV lokal Cirebon yang kedua. Karena sebelumnya juga sudah ada Cirebon TV yang lebih dulu tayang, tepatnya setahun yang lalu. Belum apa-apa, sudah muncul lawakan kalau singkatan RCTV menggambarkan stasiun TV ini adalah perpaduan antara RCTI dan SCTV! Hahaha…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya aku merasa agak &lt;em&gt;ngejlug&lt;/em&gt; ketika harus bergabung dengan stasiun TV. Meski masih berada pada jalur jurnalistik, paling tidak sekarang aku harus merubah fokus dalam menjalankan tugas. Ketika bekerja sebagai wartawan cetak, aku tumpahkan segala kemampuanku untuk mengolah suatu peristiwa menjadi berita melalui kata-kata. Sekarang, aku harus memulai belajar memperoleh rekam gambar yang bagus. Ya, setidaknya yang sesuai dengan standar yang dibataskan oleh redaktur. Terlebih ketika aku juga belum begitu akrab dengan &lt;em&gt;handycam&lt;/em&gt;. Tapi, sepertinya aku harus belajar cepat menggunakan ‘senjata’ baruku ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yaaah… doakan sajalah, saudara-saudara. Semoga aku segera mengerti pekerjaan baruku ini. Dan menjadi orang-orang pertama yang berhasil membangun RCTV menjadi stasiun TV lokal yang membanggakan. []&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9080682297008997308-7845626042158865945?l=blacknovembers.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blacknovembers.blogspot.com/feeds/7845626042158865945/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9080682297008997308&amp;postID=7845626042158865945&amp;isPopup=true' title='11 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9080682297008997308/posts/default/7845626042158865945'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9080682297008997308/posts/default/7845626042158865945'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blacknovembers.blogspot.com/2008/09/dunia-baru-semangat-baru.html' title='Dunia Baru - Semangat Baru'/><author><name>Fahmi FR</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02538757189290100290</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_7GV8f6ADW_Y/Sgl_2DmUa9I/AAAAAAAAAHA/u6dtkqt1UC0/S220/profile.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_7GV8f6ADW_Y/SMLpJBwvCTI/AAAAAAAAAFM/LpUKW9_UHEM/s72-c/Color+Bar+gede+copy.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>11</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9080682297008997308.post-1472196956517715729</id><published>2008-08-22T02:35:00.000-07:00</published><updated>2008-08-28T08:01:05.507-07:00</updated><title type='text'>Mabok ’Bella Luna’</title><content type='html'>&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;May I suggest you get the best&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Of your wish may I insist&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;That no contest for little you or smaller I&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;A larger chance yet, but all them may lie&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;On the rise, on the brink of our lives&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;(Bella Luna – Jazon Mraz)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir selama sepekan ini aku mabok. Bukan mabok minuman beralkohol, Pak Kyai bilang itu haram – jadi, mending minum es cendol aja &lt;em&gt;jeh&lt;/em&gt;. Dan bukan juga mabok cinta, kebanyakan cinta lebih sering membunuhku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mabok ’Bella Luna’. Emang ada...? Hehehe... itu hanya istilahku sendiri saja. Karena mungkin hanya aku yang mengalaminya. Ada yang tahu albumnya Jazon Mraz yang &lt;em&gt;MR. A-Z&lt;/em&gt; (2005) ? Sebuah album yang sudah tidak cocok menyandang kata baru. Dan mungkin sudah masuk daftar koleksi di gudang. Tapi itu tidak berlaku bagiku. Aku baru tahu dan mendengar lagu-lagunya seminggu kemarin. Bahkan aku menemukan lagu berjudul &lt;em&gt;Remedy&lt;/em&gt; yang sebelumnya sudah sering aku dengar ternyata itu yang nyanyi Jazon Mraz. Ketinggalan jaman banget yak! Buat yang belum pernah atau pengen dengerin lagunya bisa klik di &lt;a href="http://www.youtube.com/watch?v=TsuBkmzItZ8&amp;amp;feature=related"&gt;http://www.youtube.com/watch?v=TsuBkmzItZ8&amp;amp;feature=related&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, dalam album tersebut aku menemukan lagu berjudul ’Bella Luna”. Pertama kali dengar lagunya aku langsung suka. Dua kali putar, ternyata belum cukup. Akhirnya aku putar ulang terus. Playlist winamp yang biasanya penuh berjejal aneka lagu kini menyisakan ’Bella Luna’ yang berdurasi 5 menit 2 detik itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entahlah, kenapa perhatianku tertuju pada ’Bella Luna’. Apakah aku paham dengan makna lirik lagunya? Sepertinya tidak. Aku masih gagap bahkan gugup kalau harus baca, tulis, dan mendengar bahasa Inggris. Atau karena petikan gitar dan lantunan vocal yang mendayu-dayu? Waduh, entahlah pokonya aku mabok!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan-jangan aku sedang mengalami apa yang disebut Theodore Adorno sebagai &lt;em&gt;Pseudo-individualisasi&lt;/em&gt;. Sebuah standarisasi hit-hit lagu yang menjaga para penikmat musik tetap menerimanya dengan tetap mendengarkannya. Membuat para penikmat musik lupa bahwa apa yang mereka dengarkan itu telah diperdengarkan bahkan ’disederhanakan sebelumnya’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adorno pernah melakukan analisis sistematis tentang kajian budaya massa. Melalui &lt;em&gt;On Popular Music&lt;/em&gt; (1941), ia membuat tiga pernyataan spesifik perihal musik pop. &lt;em&gt;Pertama&lt;/em&gt;, musik pop itu distandarisasikan. Sekali pola musikal dan atau lirikal ternyata sukses, ia akan dieksploitasi hingga kelelahan komersial, yang memuncak pada ’kristalisasi standar’. Untuk menyembunyikan ’standarisasi’, maka industri musik menggunakan pseudo-individualisasi sebagaimana dijelaskan di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Kedua&lt;/em&gt;, musik pop mendorong pendengaran pasif. Karenanya banyak dorongan untuk mencari jalan keluar. Namun, industri musik di bawah kendali kapitalisme telah menumpulkan dan hanya meninggalkan sedikit energi untuk menemukan jalan keluar yang sebenarnya. Konsumsi musik pop itu senantiasa pasif dan repetitif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian yang &lt;em&gt;ketiga&lt;/em&gt; adalah klaim bahwa musik pop beroperasi seperti ’semen sosial’. Fungsi sosial-psikologisnya adalah meraih penyesuaian fisik dengan mekanisme khidupan saat ini dalam diri konsumen musik pop. Penyesuaian ini memanifestasikan dirinya dalam dua tipe sosial-psikologis utama perilaku massa. Yakni tipe penurut ’ritmis’ dan tipe ’emosional’. Tipe ritmis menari-nari dalam pemalingan perhatian pada ritme eksploitasinya sendiri. Dan tipe emosional berkubang dalam kesengsaraan yang sentimentil, lupa kondisi eksistensi nyata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musik pop telah menjadi bagian yang tak terelakkan dalam kehidupan kita. Musik pop secara lebih ekstrem telah menyerbu kita. Serbuan yang membuat kita tersungkur di sangkur budaya massa. Lihat saja, barisan artis siap dan sudah mulai ikut-ikutan menyanyi. Ribuan grup band pendatang baru menunggu giliran untuk dijejalkan dalam kubangan budaya pop. ’Mabok’ mungkin termasuk dalam akibat dari serangan dan serbuan tersebut. []&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9080682297008997308-1472196956517715729?l=blacknovembers.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blacknovembers.blogspot.com/feeds/1472196956517715729/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9080682297008997308&amp;postID=1472196956517715729&amp;isPopup=true' title='12 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9080682297008997308/posts/default/1472196956517715729'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9080682297008997308/posts/default/1472196956517715729'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blacknovembers.blogspot.com/2008/08/mabok-bella-luna-sebuah-pengalaman.html' title='Mabok ’Bella Luna’'/><author><name>Fahmi FR</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02538757189290100290</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_7GV8f6ADW_Y/Sgl_2DmUa9I/AAAAAAAAAHA/u6dtkqt1UC0/S220/profile.JPG'/></author><thr:total>12</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9080682297008997308.post-5992453141360672244</id><published>2008-08-12T02:51:00.000-07:00</published><updated>2008-08-12T03:39:06.895-07:00</updated><title type='text'>Buddy Award</title><content type='html'>&lt;div align="left"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#ffff00;"&gt;HOREEE....&lt;/span&gt; aku dapat award dari Fery (&lt;a href="http://ferygustian.blogspot.com/"&gt;http://ferygustian.blogspot.com/&lt;/a&gt;). &lt;span style="color:#33cc00;"&gt;Buddy Award&lt;/span&gt; namanya, aku senang. Apalagi kalau dilihat dari makna Buddy Award itu sendiri, pertemanan atau persahabatan. Terima kasih untuk semuanya....&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5233571557687392274" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_7GV8f6ADW_Y/SKFhmmKLeBI/AAAAAAAAAEI/K4iFTjE1KAM/s320/award+buddy.JPG" border="0" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dan sesuai aturannya, award ini aku teruskan kepada 7 nama di bawah ini:&lt;/div&gt;&lt;p align="left"&gt;Vina Revi -- &lt;a href="http://vina-pages.blogspot.com/"&gt;http://vina-pages.blogspot.com/&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="left"&gt;Masciput -- &lt;a href="http://masciput.blogspot.com/"&gt;http://masciput.blogspot.com/&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="left"&gt;Nirmana -- &lt;a href="http://mynirmana.blogspot.com/"&gt;http://mynirmana.blogspot.com/&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="left"&gt;Lia -- &lt;a href="http://amaliasolicha.wordpress.com/"&gt;http://amaliasolicha.wordpress.com/&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="left"&gt;Ainur Rohman -- &lt;a href="http://ainurohman.blogspot.com/"&gt;http://ainurohman.blogspot.com/&lt;/a&gt; &lt;/p&gt;&lt;p align="left"&gt;Donlenon -- &lt;a href="http://donlenon.blogspot.com/"&gt;http://donlenon.blogspot.com/&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="left"&gt;Wirati -- &lt;a href="http://rathikumara.blogspot.com/"&gt;http://rathikumara.blogspot.com/&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="left"&gt;&lt;span style="color:#ff6600;"&gt;Selamat&lt;/span&gt; dan tetap semangat untuk ngeblog, posting cerita2 menarik, ninggalin komen yang lucu2, dan semakin banyak teman. Thanks []&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9080682297008997308-5992453141360672244?l=blacknovembers.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blacknovembers.blogspot.com/feeds/5992453141360672244/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9080682297008997308&amp;postID=5992453141360672244&amp;isPopup=true' title='7 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9080682297008997308/posts/default/5992453141360672244'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9080682297008997308/posts/default/5992453141360672244'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blacknovembers.blogspot.com/2008/08/buddy-award.html' title='Buddy Award'/><author><name>Fahmi FR</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02538757189290100290</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_7GV8f6ADW_Y/Sgl_2DmUa9I/AAAAAAAAAHA/u6dtkqt1UC0/S220/profile.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_7GV8f6ADW_Y/SKFhmmKLeBI/AAAAAAAAAEI/K4iFTjE1KAM/s72-c/award+buddy.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9080682297008997308.post-8415088062225782586</id><published>2008-08-10T21:00:00.000-07:00</published><updated>2008-08-10T23:06:07.304-07:00</updated><title type='text'>Bagaimana Seharusnya Tertawa?</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#33ff33;"&gt;&lt;em&gt;Ridendo Dicere Verum&lt;/em&gt; - Sambil Tertawa Bicara Kebenaran.&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Bagi yang hobi baca komik Sawung Kampret karya Dwi Koen Br, tentunya kalimat di atas sudah tidak asing lagi. Tapi, di sini aku tidak akan cerita tentang komik. Aku cuma tertarik dengan ungkapan &lt;em&gt;sambil tertawa bicara kebenaran&lt;/em&gt;. Kalau misalnya dibalik menjadi &lt;em&gt;bicara kebenaran sambil tertawa&lt;/em&gt; bagaimana ya? Namun, di sini aku juga tidak sedang ingin bicara tentang kebenaran. Kali ini aku mau cerita tentang tertawa. Tepatnya tentang komentar teman-teman tentangku ketika tertawa.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;"Mi, kenapa sih kalo kamu tertawa matanya merem?" tanya seorang teman suatu ketika. Waduh, ini pertanyaan atau tebak-tebakan nih. "Masa sih," jawabku balik bertanya. "Iya, beneran deh!" jawab temanku meyakinkan. "Hati-hati, Mi. Kalo lagi kumpul bareng temen-temen, terus kamu tertawa, nanti mereka pada kabur kamu ngga tau. Ditinggal sendirian deh," lanjutnya dengan nada meledek. "Hahaha...." temanku tertawa dan aku pun ikut tertawa mendengarnya. Tapi... Lho, temenku tadi ke mana yak? jangan-jangan kabur. Clingak-clinguk... Wah, beneran nih aku ditinggal kabur. Hehehe...&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan dan pernyataan seperti itu sudah sering aku dengar dari teman-teman bahkan keluargaku. "Mi, kamu tertawa kok merem. Ada-ada aja," kata temanku lagi di lain kesempatan. Aku menanggapi itu semua sebagai bentuk perhatian teman-teman kepadaku. Sampai bagaimana aku tertawa saja mereka tahu. Padahal aku sendiri tidak pernah memperhatikan bagaimana mereka tertawa. Atau, jangan-jangan caraku tertawa sambil merem adalah sebuah kelainan, tidak umum terjadi sehingga terlihat mencolok di mata mereka? Entahlah, yang pasti itu masih mendingan daripada mereka berkomentar tentang gigiku yang kuning atau bahkan bau mulut yang terbuka lebar saat tertawa. Hehehe...&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Baiklah, itu aku, yang kalau tertawa merem. Tapi, bagaimana aku bisa meyakinkan diriku tentang hal itu. Akhirnya aku coba tertawa sendiri di depan cermin. Ternyata benar, aku tidak bisa melihat bagaimana aku tertawa. Kalau aku tertawanya tidak merem kan pasti bisa lihat bayanganku yang sedang tertawa di depan cermin. Selain itu, aku juga menemukan foto saat aku tertawa seperti di bawah ini;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5233115894128281346" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 337px; CURSOR: hand; HEIGHT: 145px; TEXT-ALIGN: center" height="214" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_7GV8f6ADW_Y/SJ_DLfH3hwI/AAAAAAAAAEA/df63W0sE1kw/s320/sambil+merem.jpg" width="418" border="0" /&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#ff6666;"&gt;Meski kedua jari-jari tangan bergaya ala rocker, aku bukan sedang berteriak bernyanyi, aku sedang tertawa melihat Wandi yang berpose sambil ngupil.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Lalu, bagaimana seharusnya tertawa? &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Menurutku, setiap orang punya kebiasaan dan mungkin ciri khas tersendiri ketika tertawa. Hal ini bisa dilihat dari gerak tubuh, raut muka, suara, hingga lamanya waktu tertawa. Ya, tertawa adalah laku manusiawi yang ternyata harus kita syukuri sebagai karunia Tuhan kepada makhluk yang bernama manusia. Dan segala yang Tuhan berikan sudah pasti bermanfaat bagi yang menerimanya. Coba bayangkan, seandainya manusia di bumi ini tidak dikarunia sebuah nikmat tertawa. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Tertawa itu pekerjaan yang paling mudah. Asal ada pemicu tentunya raut muka yang tadinya tegang berubah riang gembira. Secara medis/psikologis tertawa juga mempunyai efek positif pada mental seseorang. Dan katanya, orang yang mudah tertawa lebih cepat sembuh dari penyakit ketimbang orang yang lebih banyak mengeluh apalagi menangis. Tidak heran jika sudah banyak terapi penyembuhan atau relaksasi dengan cara tertawa. Tentu saja tertawa biasa berbeda dengan tertawa yang ditujukan untuk penyembuhan. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Tertawa dapat merangsang pengeluaran &lt;em&gt;endorphin&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;serotin&lt;/em&gt; ditambah &lt;em&gt;melatonin &lt;/em&gt;yang merupakan zat kimia positif. &lt;em&gt;Release&lt;/em&gt; dari zat tersebut menyebabkan perasaan tenang dan tenteram. Sebaliknya, tertawa mengurangi pengeluaran &lt;em&gt;adrenalin&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;kortisol&lt;/em&gt; dan radikal bebas yang disebut zat kimia jahat. Selain itu dapat juga menurunkan tekanan darah dan detak jantung, mengurangi kadar kolesterol jahat. Sistem &lt;em&gt;immune&lt;/em&gt; juga dirangsang dengan tertawa, yaitu salah satunya melalui sel antikanker yang akan memakan sel kanker dalam tubuh.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Selain bermanfaat bagi kesehatan, tertawa juga punya nilai ekonomi/bisnis yang tinggi. Terbukti dengan banyaknya dunia pertunjukkan yang mengeksplorasi. belakangan mungkin lebih cocok disebut eksploitasi, respon/sensor tawa penonton. Lihat saja berapa banyak acara lawak yang ada di TV. Salah satu stasiun TV pun pernah rutin menggelar audisi pelaku dunia lawak Indonesia. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Bahkan, eksploitasi tawa penonton/pemirsa tidak lagi menjadi monopoli program tayangan lawak. Lihat saja berapa banyak &lt;em&gt;variety show/talk show&lt;/em&gt; di TV yang &lt;em&gt;booming&lt;/em&gt; karena aksi kocak pembawa acaranya. Misal, Empat Mata dengan Tukul Arwana dan kawan-kawannya. Semakin &lt;em&gt;katro&lt;/em&gt;, lucu, dan gila aksi Tukul dkk, semakin banyaklah orang yang menonton. Betapa tertawa telah dapat memakmurkan kehidupan Tukul bersama anak dan istrinya si Tuti Similikiti Weleh-weleh itu. Hehehe... Tertawalah, sebelum tertawa itu dilarang. Kira-kira begitu kalimat yang kita baca di akhir film-film Warkop DKI (Dono, Kasino, Indro) yang legendaris itu. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Namun, bagaimana seharusnya kita tertawa di tengah kondisi bangsa yang macam ini? Kesenjangan ekonomi yang belum juga beranjak dalam kehidupan rakyat dari negeri yang katanya kaya akan sumber daya alamnya ini? Sementara para pejabat dan wakil rakyat bekerja layaknya panitia penghancuran negara yang bernama Indonesia! &lt;span style="color:#ff0000;"&gt;*DEMONSTRAN mode on*&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Aku curiga, jangan-jangan negara ini, INDONESIA, hanyalah sebuah dagelan. Dimana rakyatnya dicekoki dengan berbagai tayangan dangkal yang mengumbar tawa. Sehingga ketika ada pejabat atau wakil rakyat yang ketahuan korupsi, main perempuan, mengkonsumsi narkoba, dan laku bejat lainnya, rakyat tidak perlu pusing. Anggap saja itu sebagai lelucon dan GRRRRRRR......!! Kita cuma bisa tertawa dan bilang, "Hehe... kesadap niye telponnya. Malu tuh..." dan kemudian &lt;em&gt;kembali lagi ke laptop&lt;/em&gt;! &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Hmmm... sebentar, perasaan tadi aku cerita tentang aku yang tertawa sambil merem kan? Kenapa jadi sibuk ngurusin negara neh?! Oooo.... tadi aku tertawa, merem, kemudian.... waduh, aku kerasukan roh para pejuang Republik ini, mulai dari Jendral Soedirman, Bung Tomo, Tan Malaka, Bung Karno, Bung Hatta, M. Natsir, de-el-el. Hehehe... maklum, mau 17-an neh. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;DIRGAHAYU &lt;span style="color:#ff6666;"&gt;REPUBLIK&lt;/span&gt; INDONESIA ! &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9080682297008997308-8415088062225782586?l=blacknovembers.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blacknovembers.blogspot.com/feeds/8415088062225782586/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9080682297008997308&amp;postID=8415088062225782586&amp;isPopup=true' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9080682297008997308/posts/default/8415088062225782586'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9080682297008997308/posts/default/8415088062225782586'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blacknovembers.blogspot.com/2008/08/bagaimana-seharusnya-tertawa.html' title='Bagaimana Seharusnya Tertawa?'/><author><name>Fahmi FR</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02538757189290100290</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_7GV8f6ADW_Y/Sgl_2DmUa9I/AAAAAAAAAHA/u6dtkqt1UC0/S220/profile.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_7GV8f6ADW_Y/SJ_DLfH3hwI/AAAAAAAAAEA/df63W0sE1kw/s72-c/sambil+merem.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9080682297008997308.post-7292379159766991091</id><published>2008-08-08T05:27:00.000-07:00</published><updated>2008-08-08T07:02:22.438-07:00</updated><title type='text'>Symbol of Love</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;"Aku baru saja beli boneka babi warna pink buat pacarku," kata seorang teman kepadaku. &lt;/span&gt;"Maksudnya untuk apa?" tanyaku. "Ya, sekedar tanda hubungan aku dengan pacarku aja," jawabnya. "Terus kenapa harus boneka babi, warna pink pula?" tanyaku lagi. "Itu permintaan si dia, bonekanya lucu koq," ujarnya sambil mesam-mesem.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku lepas memori ke masa lalu. Stop! ingatanku terhenti di zaman SMA. Sepertinya aku juga pernah melakukan apa yg dilakukan temanku itu. Memberi tanda hubungan (pacaran) dgn memberikan sesuatu kepada sang pacar. Tapi, sesuatu apa yg aku berikan kepada pacarku waktu itu? Hmmm.... *pura2 MIKIR*&lt;br /&gt;Ting! Aha... aku ingat, &lt;span style="color:#ffff33;"&gt;CANGKANG TELOR!?&lt;/span&gt; #$gedombrang..^%@!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, waktu itu aku memberikan sebutir telor ayam yg isinya sudah aku keluarkan. Ga modal banget kan...? Tapi ini bukan telor sembarang telor. Meski tidak bisa dimakan, telor ini mengandung makna yg dalam buat hubungan aku dgn si dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Supaya terlihat istimewa, aku tuliskan namaku di atas telor tsb dgn sedikit hiasan bunga-bungaan. Niatnya sih pengen buat kayak telor Paskah itu lho... Apa daya, kemampuan menggambarku di atas kertas saja kurang bagus, apalagi harus ngegambar dgn media telor. Jadilah, lukisan telor seadanya itu aku titipkan kepadanya. &lt;em&gt;Alhamdulillah&lt;/em&gt;, pacarku mau menerima dan menyimpannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Neng, ini ada sesuatu utk kamu," kataku saat bertemu usai pulang sekolah. "Tolong disimpan ya," lanjutku. Dia mengangguk menerimanya sambil tersenyum. "Tapi dibukanya nanti aja ya klo udah sampe rumah," pintaku sambil mengajaknya beranjak pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan harinya, pacarku senyum-senyum terus saat bertemu denganku. Mungkin dia merasa aneh dengan pemberianku itu. Kemudian aku mengajaknya mengobrol membahas makna cangkang telor itu. "Tau ga kenapa aku memberikan telor itu," tanyaku membuka obrolan. Dia cuma geleng kepala. Baiklah, akan aku jelaskan. Begini,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamu tau, di dalam telor itu ada bagian yg berwarna kuning dan putih. Emak bilang, &lt;span style="color:#ffff33;"&gt;KUNING TELOR&lt;/span&gt; bisa digunakan utk campuran membuat bolu/kue. Peran kuning telor adalah agar bolu/kue terasa &lt;span style="color:#ffff33;"&gt;LEMBUT, TIDAK KERAS&lt;/span&gt;. Oleh karena itu, aku berharap hubungan kita ini diisi dengan rasa cinta yang penuh &lt;span style="color:#ffff33;"&gt;KELEMBUTAN HATI&lt;/span&gt;. Meski kamu agak tomboy, mudah2an sifatmu &lt;span style="color:#ffff33;"&gt;TIDAK KERAS&lt;/span&gt; dalam menjalani hubungan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian &lt;span style="color:#ffff33;"&gt;PUTIH TELOR&lt;/span&gt;, katanya, bahan yg digunakan utk merekatkan batu-batu di candi Borobudur yg megah itu menggunakan &lt;span style="color:#ffff33;"&gt;PUTIH TELOR&lt;/span&gt;. Sehingga aku berharap hubungan kita bisa saling mendekatkan, merekatkan, menguatkan satu sama lain. Kamu tau, cangkang telor itu sangat rapuh, gampang banget pecah, hancur, dan remuk. Dan seperti itulah masa-masa kita sekarang ini. Masa remaja yg mungkin akan mudah terpengaruh, labil, dgn hal-hal yg dihadapi. &lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Jika telor itu pecah, maka kita putus&lt;/span&gt;. Jadi, tolong jaga baik-baik ya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebulan, dua bulan, tiga bulan pacaran berjalan lancar. Hingga pada suatu pagi dia mendatangiku dgn wajah yg murung. "Telornya pecah..." ungkapnya pelan. "Maaf ya..." lanjutnya. Mulai saat itu aku dan dia mulai jarang ketemu, tidak pernah ketemu. Dan saat ketemu, dia sudah menjadi istri orang. Hiks...hiks...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah, begitulah. Hidup ini dipenuhi simbol dan tanda (tanya). Benarkah simbol muncul karena ketidakmampuan manusia mengatasi kontradiksi yg ada pada dirinya maupun alam semesta? Sehingga kita hanya sibuk mengurusi simbol dan tanda dalam hidup ini. &lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;Bahkan sekedar utk mengekspresikan rasa cinta kita? Bagaimana dgn Anda? &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9080682297008997308-7292379159766991091?l=blacknovembers.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blacknovembers.blogspot.com/feeds/7292379159766991091/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9080682297008997308&amp;postID=7292379159766991091&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9080682297008997308/posts/default/7292379159766991091'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9080682297008997308/posts/default/7292379159766991091'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blacknovembers.blogspot.com/2008/08/symbol-of-love.html' title='Symbol of Love'/><author><name>Fahmi FR</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02538757189290100290</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_7GV8f6ADW_Y/Sgl_2DmUa9I/AAAAAAAAAHA/u6dtkqt1UC0/S220/profile.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9080682297008997308.post-6362098145879065540</id><published>2008-08-03T20:40:00.000-07:00</published><updated>2008-08-03T21:38:44.562-07:00</updated><title type='text'>Sorry, Gue Golput!</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp0.blogger.com/_7GV8f6ADW_Y/SJaHImnyAhI/AAAAAAAAADw/ODvLqVQ2gR8/s1600-h/golput.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5230516599113515538" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://bp0.blogger.com/_7GV8f6ADW_Y/SJaHImnyAhI/AAAAAAAAADw/ODvLqVQ2gR8/s320/golput.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;div&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-size:0;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;34 partai politik siap berebut suara pada Pemilu 2009 mendatang. Para politisi sibuk tebar pesona membangun citra partai/caleg dengan klaim perubahan, kesejahteraan, kemandirian bangsa, dan sebagainya. Beberapa orang pun mulai sering muncul melalui iklan di TV. Meski dalam iklan tersebut mereka tidak secara langsung menyatakan pencalonan dirinya pada pemilu presiden mendatang. Ada yg bicara tentang kebangkitan nasional, cinta produk dalam negeri, dan lain-lain. Semuanya berharap simpati masyarakat.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Ada yg menarik dari iklan Rizal Malarangeng di TV dgn &lt;em&gt;tag line&lt;/em&gt; Save Our Nation itu. Dia bilang begini, &lt;em&gt;"If there is a will. There is a way..."&lt;/em&gt; Jika ada kemauan, maka ada jalan. Kira-kira begitulah terjemahannya. Tapi, aku menerjemahkan kalimat tersebut sbg berikut; &lt;em&gt;Jika ada maunya, segala cara akan dilakukan. &lt;/em&gt;Ya, begitulah kelakuan para politisi busuk negeri ini. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Terhitung sejak Juli lalu partai-partai tersebut sudah bisa melakukan sosialisasi termasuk kampanye hingga Maret 2009. Gila, 9 bulan man! Udah kayak orang hamil aja yak. Yah, mudah-mudahan Pemilu dgn jangka waktu kampanye kayak orang hamil tsb bisa melahirkan pemimpin/wakil rakyat yg sehat, tidak prematur, tidak cacat, dan tidak punya bakat lahir sbg koruptor. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Pemilu 2004 lalu merupakan awal bagiku mendapat hak suara dalam pemilu. Saat itu aku hanya memilih seorang Caleg dari salah satu parpol. Tapi, utk calon eksekutif aku Golput. Entahlah, bagiku terlalu &lt;em&gt;ngawang-ngawang&lt;/em&gt; utk mempercayakan kepemimpinan sebuah negara macam Indonesia ini kepada org2 yg mencalonkan diri menjadi wakil rakyat/presiden itu. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Tapi, aksi Golput yg aku lakukan bukan dengan tidak mendatangi TPS sama sekali. Aku datang ke TPS layaknya masyarakat lain yg akan memberikan suaranya dengan mencoblos. Hal ini aku lakukan karena ada perasaan tidak enak kepada orangtuaku. Mereka bilang, "sebagai warga negara yg baik, saat pemilu ya harus datang ke TPS. Urusan milih siapa, atau golput sekalipun itu urusan kamu. Lagipula, nyoblosnya kan di dalam bilik, ga ada yg tau."&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Mulai saat itulah aku memilih utk Golput. Tidak memilih adalah pilihan, kira-kira begitulah alasannya. Satu alasan yang bodohkah? Ya masa bodoh! Berapa pun partainya, gue Golput! Siapapun calonnya, gue Golput! Apapun janjinya, gue Golput!&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Bagaimana dengan Anda?&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9080682297008997308-6362098145879065540?l=blacknovembers.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blacknovembers.blogspot.com/feeds/6362098145879065540/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9080682297008997308&amp;postID=6362098145879065540&amp;isPopup=true' title='9 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9080682297008997308/posts/default/6362098145879065540'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9080682297008997308/posts/default/6362098145879065540'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blacknovembers.blogspot.com/2008/08/sorry-gue-golput.html' title='Sorry, Gue Golput!'/><author><name>Fahmi FR</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02538757189290100290</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_7GV8f6ADW_Y/Sgl_2DmUa9I/AAAAAAAAAHA/u6dtkqt1UC0/S220/profile.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_7GV8f6ADW_Y/SJaHImnyAhI/AAAAAAAAADw/ODvLqVQ2gR8/s72-c/golput.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>9</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9080682297008997308.post-1339545173556559553</id><published>2008-07-16T22:10:00.000-07:00</published><updated>2008-07-16T22:16:36.932-07:00</updated><title type='text'>Sejuta Definisi Indonesia</title><content type='html'>&lt;span id="fullpost"&gt;Sejuta definisi, sejuta istilah dewasa ini diberikan kepada Indonesia. Berikut hanya sebuah sumbangan pemikiran Cak Nun yang ditulis berbelas tahun yang lalu dalam &lt;strong&gt;Iblis Nusantara Dajjal Dunia&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Sebuah negeri dengan deretan kerusuhan yang terus membakar dirinya tanpa dipastikan bahwa kali tertentu ia akan berhenti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Sebuah negeri dengan tumpukan problem, yang tidak datang dari luar melainkan dari dalam diri mereka sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Sebuah negeri dengan akumulasi masalah, yang telah seribu kali disadari, seribu kali didiskusikan, seribu kali dinyatakan akan diatasi, namun seribu kali pula tidak pernah benar-benar diatasi, dan bahkan seribu kali pula masalah itu malahan ditambahi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Sebuah negeri dengan hamparan kesenjangan, ketimpangan dan ketidakseimbangan yang tidak pernah sanggup direnungi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Sebuah negeri yang penuh anugerah, namun tidak diproduksi darinya kemaslahatan dan kebahagiaan bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Sebuah negeri yang semakin lama semakin membutuhkan kerusuhan buat mendapatkan kemungkinan untuk terbangun dari tidur panjangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Sebuah negeri yang di leher gunung kekisruhannya ditemui oleh keteduhan Ramadhan, namun tidak mempengaruhinya untuk &lt;i&gt;mengi’tikafi&lt;/i&gt; keadaan-keadaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Sebuah negeri yang sedang dihantam oleh letusan gunung, oleh kobaran api demi api, namun tetap saja tidur nyenyak dalam ketentraman global yang tidak sehat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Sebuah negeri yang bertele-tele dalam mengamati permasalahan dirinya, yang bertele-tele dalm menginsyafi bahwa sangat banyak soal mendasar yang harus diurusinya, serta yang bertele-tele dalam mengkoordinasikan segala kemungkinanuntuk bangkit dari ranjau-ranjau zaman yang diciptakannya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. Sebuah negeri yang sedang digoyang oleh berbagai hasil kelakuan zamannya sendiri, namun para penghuninya tidak menginisiatif-i kehendak bersama dalam skala nasional untuk memperbaiki kuda-kuda dan merancang suatu ketegak-kan dan keteguhan barus sebagai bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11. Sebuah negeri yang sangat memerlukan tangan-tangan saling berentang dan bergandengan, namun yang berlangsung justru tangan demi tangan sangat sibuk mengepalkan diri dan kekuasaan nya masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12. Sebuah negeri yang sangat membutuhkan ‘orang tua’, namun yang tampil di panggung dan dibesar-besarkan oleh media massa justru adalah pemimpin-pemimpin bermental kanak-kanak yang justru sibuk menebar fitnah,&lt;i&gt; dlon&lt;/i&gt;, sangkaan, aran-aran (prasangka dlm Jawa).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Emha Ainun Nadjib, diambil dari mailist Maiyah Kenduri Cinta)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9080682297008997308-1339545173556559553?l=blacknovembers.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blacknovembers.blogspot.com/feeds/1339545173556559553/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9080682297008997308&amp;postID=1339545173556559553&amp;isPopup=true' title='11 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9080682297008997308/posts/default/1339545173556559553'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9080682297008997308/posts/default/1339545173556559553'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blacknovembers.blogspot.com/2008/07/sejuta-definisi-indonesia.html' title='Sejuta Definisi Indonesia'/><author><name>Fahmi FR</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02538757189290100290</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_7GV8f6ADW_Y/Sgl_2DmUa9I/AAAAAAAAAHA/u6dtkqt1UC0/S220/profile.JPG'/></author><thr:total>11</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9080682297008997308.post-7215759681876374793</id><published>2008-07-11T02:23:00.000-07:00</published><updated>2008-07-11T03:45:45.726-07:00</updated><title type='text'>The End Of Wartel</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_7GV8f6ADW_Y/SHc5GmzLIjI/AAAAAAAAADg/vOEYvpgvJzs/s1600-h/wartel.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5221705078616564274" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://bp2.blogger.com/_7GV8f6ADW_Y/SHc5GmzLIjI/AAAAAAAAADg/vOEYvpgvJzs/s320/wartel.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://bp1.blogger.com/_7GV8f6ADW_Y/SHc38Gnoz5I/AAAAAAAAADY/ORU7jqmNjfs/s1600-h/wartel.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Di zaman &lt;em&gt;handphone&lt;/em&gt; maharajalela sekarang ini, kapan terakhir kali anda menggunakan jasa Warung Telekomunikasi alias Wartel? Saya sendiri lupa, kapan ya? Kalau ke warnet, ketika anda baca tulisan ini, ya mungkin saya baru beberapa jam/hari saja keluar warnet kemudian mampir ke warteg Mang Ali di deket kampus. Apakah ini mengindikasikan bahwa sarana telekomunikasi publik ini sudah dilupakan masyarakat?&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Baiklah, berikut ini adalah penjelasan sekilas tentang Wartel yg saya kutip dari kamus Wikipedia. Warung telekomunikasi atau wartel adalah tempat yang disediakan untuk pelayanan jasa telekomunikasi untuk umum yang ditunggu baik bersifat sementara maupun tetap dan merupakan bagian dari telepon umum. Penunggu wartel adalah orang yang bekerja di dalam bangunan wartel yang bisa bersifat tetap maupun bergerak (wartel dengan memakai mobil boks).&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Di dalam wartel terdapat kamar bicara umum (KBU) berisi pesawat telepon untuk digunakan pemakai jasa. Telepon di dalam kamar bicara umum bisa digunakan untuk pembicaraan telepon lokal, antarwilayah, interlokal (SLJJ), maupun sambungan langsung internasional. Biaya pemakaian jasa telekomunikasi dibayar langsung di tempat oleh konsumen sesuai tarif pulsa yang berlaku ditambah tarif pelayanan.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Penyelenggaraan jasa wartel paling sedikit menggunakan dua sambungan telekomunikasi. Pemilik wartel adalah perorangan, badan usaha milik daerah (BUMD), badan usaha milik swasta, atau koperasi. Sejak 8 Januari 1992, sudah terbentuk Asosiasi Pengusaha Wartel Indonesia (APWI). Selain itu, penyelenggaraan usaha ini juga diatur melalui Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor: 05/PER/M.KOMINFO/I/2006. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Nah, kembali ke... persoalan saya yg me-lupa-kan Wartel. Purbo Daru Kusumo, praktisi Telematika, dalam tulisannya yg pernah dimuat di KOMPAS menyebut ada beberapa faktor yg membuat bisnis ini menjadi tidak menyenangkan lagi. &lt;em&gt;Pertama&lt;/em&gt;, biaya investasi peralatan wartel cukup mahal. Bisa sampai Rp 1,25 juta hanya untuk satu unit KBU. &lt;em&gt;Kedua&lt;/em&gt;, persaingan antar-wartel yg sudah sangat ketat. Letak satu wartel dengan wartel lain berjarak kurang dari 50 meter. &lt;em&gt;Ketiga&lt;/em&gt;, masih terkait dengan persaingan, yakni dengan sarana komunikasi yang lain seperti telepon seluler. Orang yang tidak memiliki telepon rumah akan memilih berkomunikasi dengan menggunakan ponsel, terutama untuk komunikasi yang tidak lama, daripada harus berjalan keluar ke wartel terdekat, kata Purbo.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Lalu, mungkinkah bisnis wartel akan berakhir karena investor, atau setidaknya yg punya modal, lebih memilih buka usaha isi ulang pulsa? Jika ya, maka ijinkan saya untuk membuat tesis ala Fukuyama, (halah, gaya ne rek...) sebagai berikut; Sejarah wartel akan berakhir dengan kemenangan telepon seluler dan &lt;em&gt;counter&lt;/em&gt; isi ulang pulsa. Ditambah sedikit individualisme, maka sempurnalah peristiwa The End of Wartel di Indonesia. Hahaha... mudah2an tidak terjadi &lt;em&gt;class of telecommunication business &lt;/em&gt;antara APWI dengan pebisnis operator seluler. Hahaha... &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dulu, saat di rumah belum pasang &lt;em&gt;line&lt;/em&gt; telepon dan belum punya ponsel, saya terbilang sering menggunakan jasa wartel. Dan wartel merupakan ruang publik tersendiri bagi sebagian orang untuk bersosialisasi. Ya, sekedar ngobrol santai sembari godain penjaga wartelnya, apalagi kalo penjaganya cantik atau ganteng. Hihihi...&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Bahkan, tak jarang kisah dan romantisme cinta tumbuh diantara bilik-bilik KBU wartel. Ada yg pernah mengalami hal ini? saya pernah...! :) Udah ah, jangan diterusin. Nanti malah curhat deh. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ya, begitulah... saudara-saudara! Ada yang tertarik untuk memilih bisnis wartel? atau sesekali mampirlah ke wartel. Sekedar bernostalgia begitu. Mumpung wartel belum benar2 punah dan dimuseumkan oleh Depkominfo. Kali aja penjaga wartelnya cantik/ganteng. []&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sumber foto : &lt;a href="http://maxwellbd.blogdrive.com/images/cd02-ex.jpg"&gt;http://maxwellbd.blogdrive.com/images/cd02-ex.jpg&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9080682297008997308-7215759681876374793?l=blacknovembers.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blacknovembers.blogspot.com/feeds/7215759681876374793/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9080682297008997308&amp;postID=7215759681876374793&amp;isPopup=true' title='7 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9080682297008997308/posts/default/7215759681876374793'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9080682297008997308/posts/default/7215759681876374793'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blacknovembers.blogspot.com/2008/07/end-of-wartel.html' title='The End Of Wartel'/><author><name>Fahmi FR</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02538757189290100290</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_7GV8f6ADW_Y/Sgl_2DmUa9I/AAAAAAAAAHA/u6dtkqt1UC0/S220/profile.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_7GV8f6ADW_Y/SHc5GmzLIjI/AAAAAAAAADg/vOEYvpgvJzs/s72-c/wartel.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9080682297008997308.post-3441053103883601294</id><published>2008-07-09T22:55:00.000-07:00</published><updated>2008-07-09T23:42:49.395-07:00</updated><title type='text'>Selamat Bahagia!</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;em&gt;Duhai senangnya penganten baru... &lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;em&gt;Duduk bersanding bersenda gurau...&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;em&gt;Bagaikan raja dan permaisuri... lalalalala....&lt;/em&gt; *nyanyi*&lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;Minggu, 6 Juli 2008&lt;br /&gt;Nunung Nurhasanah, teman SMA, jadi penganten.&lt;br /&gt;Duuhh... senengnya.&lt;br /&gt; &lt;a href="http://bp1.blogger.com/_7GV8f6ADW_Y/SHWlzMBiGBI/AAAAAAAAACw/V4jz823k6PM/s1600-h/100_3962.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5221261641825523730" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 246px; CURSOR: hand; HEIGHT: 182px" height="179" alt="" src="http://bp1.blogger.com/_7GV8f6ADW_Y/SHWlzMBiGBI/AAAAAAAAACw/V4jz823k6PM/s320/100_3962.jpg" width="231" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a href="http://bp0.blogger.com/_7GV8f6ADW_Y/SHWqjNA9wPI/AAAAAAAAADI/9PltuVdxCCs/s1600-h/100_3970.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://bp3.blogger.com/_7GV8f6ADW_Y/SHWnwFTAswI/AAAAAAAAAC4/r8LRtWbaAv0/s1600-h/100_3964.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5221263787503432450" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; WIDTH: 255px; CURSOR: hand; HEIGHT: 178px" height="154" alt="" src="http://bp3.blogger.com/_7GV8f6ADW_Y/SHWnwFTAswI/AAAAAAAAAC4/r8LRtWbaAv0/s320/100_3964.jpg" width="231" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;a href="http://bp0.blogger.com/_7GV8f6ADW_Y/SHWqjNA9wPI/AAAAAAAAADI/9PltuVdxCCs/s1600-h/100_3970.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a href="http://bp0.blogger.com/_7GV8f6ADW_Y/SHWqjNA9wPI/AAAAAAAAADI/9PltuVdxCCs/s1600-h/100_3970.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://bp3.blogger.com/_7GV8f6ADW_Y/SHWoqiRqDwI/AAAAAAAAADA/zQXz0shERqE/s1600-h/100_3969.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5221264791714795266" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 247px; CURSOR: hand; HEIGHT: 187px" height="147" alt="" src="http://bp3.blogger.com/_7GV8f6ADW_Y/SHWoqiRqDwI/AAAAAAAAADA/zQXz0shERqE/s320/100_3969.jpg" width="220" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://bp0.blogger.com/_7GV8f6ADW_Y/SHWqjNA9wPI/AAAAAAAAADI/9PltuVdxCCs/s1600-h/100_3970.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5221266864771809522" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; WIDTH: 254px; CURSOR: hand; HEIGHT: 194px" height="173" alt="" src="http://bp0.blogger.com/_7GV8f6ADW_Y/SHWqjNA9wPI/AAAAAAAAADI/9PltuVdxCCs/s320/100_3970.jpg" width="218" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a href="http://bp0.blogger.com/_7GV8f6ADW_Y/SHWqjNA9wPI/AAAAAAAAADI/9PltuVdxCCs/s1600-h/100_3970.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;a href="http://bp0.blogger.com/_7GV8f6ADW_Y/SHWqjNA9wPI/AAAAAAAAADI/9PltuVdxCCs/s1600-h/100_3970.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://bp0.blogger.com/_7GV8f6ADW_Y/SHWqjNA9wPI/AAAAAAAAADI/9PltuVdxCCs/s1600-h/100_3970.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://bp3.blogger.com/_7GV8f6ADW_Y/SHWsV8J1cKI/AAAAAAAAADQ/HeIhzwk0TMc/s1600-h/100_3966.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9080682297008997308-3441053103883601294?l=blacknovembers.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blacknovembers.blogspot.com/feeds/3441053103883601294/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9080682297008997308&amp;postID=3441053103883601294&amp;isPopup=true' title='8 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9080682297008997308/posts/default/3441053103883601294'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9080682297008997308/posts/default/3441053103883601294'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blacknovembers.blogspot.com/2008/07/selamat-bahagia.html' title='Selamat Bahagia!'/><author><name>Fahmi FR</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02538757189290100290</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_7GV8f6ADW_Y/Sgl_2DmUa9I/AAAAAAAAAHA/u6dtkqt1UC0/S220/profile.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp1.blogger.com/_7GV8f6ADW_Y/SHWlzMBiGBI/AAAAAAAAACw/V4jz823k6PM/s72-c/100_3962.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>8</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9080682297008997308.post-6751198753679101963</id><published>2008-06-28T23:51:00.000-07:00</published><updated>2008-06-29T00:16:23.349-07:00</updated><title type='text'>Meneguhkan Kodrat Homo Recitatus</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_7GV8f6ADW_Y/SGc2Sn9GRwI/AAAAAAAAACo/WX4QSlhBUhQ/s1600-h/read.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5217198386922800898" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_7GV8f6ADW_Y/SGc2Sn9GRwI/AAAAAAAAACo/WX4QSlhBUhQ/s400/read.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;span id="fullpost"&gt;&lt;em&gt;Kita didera oleh banyak persoalan. Kita menjadi lelah. Kita ingin terbebas dari kelelahan itu. Cara kita membebaskan diri dari persoalan bukanlah dengan berpolitik atau berdemonstrasi. Cara kita membebaskan diri dari persoalan adalah dengan menulis. Tulisan kita harus menjadi obat yang dapat menyembuhkan kelelahan dan kegelisahan kita&lt;/em&gt;. (Shindunata) &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Sengaja tulisan ini saya buka dengan kalimat-kalimat Shindunata di atas. Berharap ada sedikit dorongan untuk (tetap) menulis (lagi) meski diterpa banyak masalah. Harus diakui, masalah mendasar dari tumpukan masalah yang saya hadapi ternyata aktifitas menulis itu sendiri. Saya masih gagap, mungkin juga gugup, ketika harus menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya harus menulis. Mengekspresikan dan mengaktualisasikan apa yang terserap panca indera di kehidupan sehari-hari. Karena di sana ada pengetahuan mungkin juga kegelisahan, yang harus saya sampaikan dan diberitakan kepada dunia. Sayangnya, itu tak berjalan semudah menyalakan komputer dan membuka &lt;em&gt;MS Word&lt;/em&gt;. Atau segampang menjejali &lt;em&gt;playlist&lt;/em&gt; Winamp dengan koleksi lagu-lagu terbaru dan terfavorit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syukurlah, saya masih punya semangat dan harapan untuk selalu menulis. Karena dengan semangat dan harapanlah saya akan tetap hidup. Muhammad Iqbal, dalam sajak-sajaknya, mendedahkan harapan sebagai sebuah kehidupan. Harapan harus dicapai dengan kerja keras dan usaha yang terus-menerus. Berjuang mewujudkan harapan lebih lezat ketimbang pencapaiaanya, kata Iqbal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan menulis pada dasarnya adalah konsekuensi logis dari praksis natural membaca. Tak ada kegiatan menulis tanpa membaca. Begitupun sebaliknya. Tuhan telah menganugerahi saya (manusia) dengan kodrat sebagai ‘insan-pembaca’ (&lt;em&gt;homo recitatus&lt;/em&gt;). Manusia tidak bisa menghindar dari kegiatan membaca. Sejak mengetahui bahwa segala yang ada di sekitar saya adalah tanda-tanda. Baik yang terepresentasikan dalam bentuk simbol, gambar, huruf, terukir maupun tercetak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tercipta sebagai insan-pembaca. Pun halnya dengan Muhammad, seorang buta huruf yang ditakdirkan menjadi rasul penutup, mendapat tugas keilahian pertamanya dengan seruan: Bacalah! Membaca adalah laku alami manusia yang menjadi esensi dari keberadaan manusia itu sendiri. Aktifitas membaca merupakan bagian dari proses pembentukan kebudayaan dan peradaban masyarakat yang maju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika saya merasa kesulitan untuk menulis, maka saya harus menengok aktifitas membaca saya selama ini. Sudahkah saya meluangkan waktu untuk membaca buku, koran, majalah, dan bahan bacaan lainnya – misal tulisan-tulisan di blog teman atau siapapunlah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini, di dunia maya ini, saya menjumpai orang-orang merayakan kodratnya sebagai &lt;em&gt;homo recitatus&lt;/em&gt;. Jaring-jaring bit komputer mempertemukan mereka di sini. Aneka rupa ekspresi yang menggelegak tentang kehidupan mereka dedahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya berharap lebih. Ini bukan sekedar perayaan apalagi pelarian dari realitas kehidupan yang penuh kemunafikan. Ini harus jadi penguatan budaya bangsa Indonesia yang gemar baca-tulis. &lt;em&gt;Scripta manent verba volant&lt;/em&gt;, yang tertulis akan mengabadi yang terucap akan berlalu bersama angin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;TALK LESS, WRITE MORE&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;. Hehehe....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9080682297008997308-6751198753679101963?l=blacknovembers.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blacknovembers.blogspot.com/feeds/6751198753679101963/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9080682297008997308&amp;postID=6751198753679101963&amp;isPopup=true' title='8 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9080682297008997308/posts/default/6751198753679101963'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9080682297008997308/posts/default/6751198753679101963'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blacknovembers.blogspot.com/2008/06/meneguhkan-kodrat-homo-recitatus.html' title='Meneguhkan Kodrat Homo Recitatus'/><author><name>Fahmi FR</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02538757189290100290</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_7GV8f6ADW_Y/Sgl_2DmUa9I/AAAAAAAAAHA/u6dtkqt1UC0/S220/profile.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_7GV8f6ADW_Y/SGc2Sn9GRwI/AAAAAAAAACo/WX4QSlhBUhQ/s72-c/read.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>8</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9080682297008997308.post-5873335825544798409</id><published>2008-06-27T01:19:00.000-07:00</published><updated>2008-06-27T01:26:47.966-07:00</updated><title type='text'>Inna Lillahi</title><content type='html'>&lt;span id="fullpost"&gt;Kalau Tuhan menganugerahi saya rejeki, tentu saja biasanya saya ucapkan &lt;em&gt;alhamdulillah&lt;/em&gt;. Tapi sering juga saya ucapkan &lt;em&gt;inna lillahi wa inna ilaihi roji'un&lt;/em&gt;. Artinya, segala sesuatu, termasuk rejeki yang saya terima serta diri saya sendiri ini, adalah milik Allah, berasal dari Allah dan kembali juga kepada Allah. Persoalan saya hanyalah bagaimana menentukan cara agar rejeki di tangan saya ini bisa kembali kepadanya melalui proses yang baik serta memproduk kemuliaan nilai hidup. Jadi saya harus memilih dengan seksama apakah rejeki ini saya pakai untuk membiayai keburukan, kejahatan, kemaksiatan atau perusakan sosial. Ataukah saya gunakan untuk memproduksi pertolongan bagi sesama, untuk menciptakan perimbangan ekonomi dengan tetangga, menyumbang keadilan sosial, atau produk-produk lain yang disukai oleh Allah dan para malaikatNya. (Emha Ainun Nadjib/Seri PadangBulan (140)/1999/PmBNetDok)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9080682297008997308-5873335825544798409?l=blacknovembers.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blacknovembers.blogspot.com/feeds/5873335825544798409/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9080682297008997308&amp;postID=5873335825544798409&amp;isPopup=true' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9080682297008997308/posts/default/5873335825544798409'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9080682297008997308/posts/default/5873335825544798409'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blacknovembers.blogspot.com/2008/06/inna-lillahi.html' title='Inna Lillahi'/><author><name>Fahmi FR</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02538757189290100290</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_7GV8f6ADW_Y/Sgl_2DmUa9I/AAAAAAAAAHA/u6dtkqt1UC0/S220/profile.JPG'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9080682297008997308.post-616926947814891603</id><published>2008-06-23T02:17:00.000-07:00</published><updated>2008-06-23T02:37:28.323-07:00</updated><title type='text'>Panggilan Tak Terjawab</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_7GV8f6ADW_Y/SF9uIin-nOI/AAAAAAAAACU/7qjhySXS6TU/s1600-h/missed+calls.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5215007986530819298" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_7GV8f6ADW_Y/SF9uIin-nOI/AAAAAAAAACU/7qjhySXS6TU/s320/missed+calls.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;div&gt;&lt;em&gt;Sebuah cerita pendek, dan mungkin mengada-ada, ini khusus buat yang sibuk di tengah malam hingga pagi hari untuk telepon berlama-lama. Ya, semacam perayaan tarif telepon yang murah. Selamat membaca....&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Jam sembilan malam. Wardoyo masih terjaga di dalam kamarnya. Di atas kasur tanpa dipan setengah tubuhnya ia sandarkan ke tembok sambil menghadapi layar televisi. Sesekali tangan kanannya yang memegangi remote ia acung-acungkan ke arah TV. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Malam itu tak ada satu pun acara TV yang bisa membuat Wardoyo melepaskan remote dan berhenti memencet-mencet tombolnya. Terang saja, sampai beberapa lama ia terus sibuk menggonta-ganti channel. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Wardoyo sedang menunggu sesuatu hingga tengah malam nanti. Empat Mata ? Bukan ! Fenomena ? Bukan ! Liga Champions; Chealse vs Liverpool ? Bukan juga ! Apa dong ?. Niatannya menonton TV hanya untuk menemaninya agar tetap terjaga. Pokoknya malam ini ia tak boleh terlelap dan tidur ! &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sebab, tadi siang Wardoyo kena damprat pacar barunya, Prastiwi. Kemarin malam ia absen menelpon pujaan hatinya yang anak semester dua itu. “Maaf, neng. Tadi malem aku ketiduran,” bujuk Wardoyo ketika mereka berdua bertemu di Perpustakaan. “Ketiduran? alasan aja,” bantah Prastiwi sambil cemberut. “Kalo gitu Neng sumpahin, nanti malem kamu ketiduran (tertimpa) lemari yang gede. Biar nggak bisa bangun sekalian !” lanjutnya dengan nada sewot plus ngambek. “Jangan gitu dong. Kok jahat banget sih ama pacar sendiri,” sergah Wardoyo sambil terus merayu. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Pertemuan itu kemudian berakhir dengan kesepakatan; Wardoyo akan dan harus menelpon Prastiwi tiap malam. Awalnya Wardoyo kurang setuju dengan kesepakatan ini. “Kalo malem nelpon ke sesama ***** kan murah,” ujar Prastiwi. Belum sempat Wardoyo menanggapi, sang cewek melanjutkan penjelasan paket hemat telpon di malam hari. Lengkap dengan hitungannya dari jam, menit, sampai detik. Persis sekali seperti iklan yang ada di TV dan koran-koran. Dan Wardoyo pun hanya bisa mengangguk mendengarnya. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kini, hampir satu jam Wardoyo masih memainkan remote TV-nya. Namun kali ini kantuk mulai menggerayanginya. Dua matanya sayup memandangi layar kaca di depannya. Wardoyo meraih ponselnya yang sejak tadi ia biarkan tergeletak di sampingnya. Baru jam sepuluh kurang tujuh menit. Artinya, ia masih harus menunggu setidaknya satu jam lagi untuk bisa telpon Prastiwi dengan tarif yang murah. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Wardoyo mulai gusar. Di tengah kantuk yang menyerangnya ia masih sempat membayangkan betapa marahnya Prastiwi jika ia tertidur dan tidak menelponnya lagi malam ini. “Awas ! kalo nanti malem nggak nelpon, kita putus !” begitu ancam sang pacar tadi siang. Wardoyo mencoba melawan kantuk. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sepertinya Wardoyo sudah mulai payah menahan rasa kantuknya. Sesekali ia menguap panjang dan membiarkan mulutnya terbuka lebar-lebar. Jika sudah menguap macam ini, yang paling enak adalah melanjutkannya dengan memejamkan mata dan tidur. Tidak boleh ! Wardoyo terperanjat. Dengan penuh beban ia mencoba membelalakkan kedua matanya memandangi TV yang masih menyala. Usahanya itu hanya mampu bertahan beberapa menit saja. Setelah itu ia terlelap lagi, terjaga lagi, terlelap lagi, terjaga lagi, dan…..&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;*** &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ponsel Wardoyo berdering, satu pesan singkat diterima. “Pasti dari Prastiwi,” tebaknya. Namun ia salah, ia mendapati pesan dengan nomer pengirim yang aneh, 000-000-0000. “Secantik-cantiknya nomer, ga ada deh yang kayak gini,” katanya dalam hati. “Provider baru apa ya ?” tanya Wardoyo masih dalam hati. Ia kemudian membaca isi pesannya yang tak kalah aneh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Sbgian org brgmbra mnymbut mlm, krn mrk akn brmesraan dgn Tuhan. Kala mthri trbit, mrk brsdih krn ursn dunia bgtu mnyibukkn.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Kening Wardoyo mengernyit. Ia merasa heran dengan isi pesan yang ia terima tersebut. Namun ia tak mau ambil pusing. Jempolnya hampir saja menekan options – delete, namun ia urungkan niatnya itu. Ia kemudian meletakkan kembali ponselnya. Tapi tak lama berselang, tititit tiiit…tit tititit – tititit tiiit…tit tititit. Wardoyo langsung menyambar ponsel didekatnya. 1 message received, buru-buru ia membukanya, berharap itu pesan dari pacarnya. Hah… ! Wardoyo terperanjat, pesan dari nomer aneh lagi ?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Tiga hal yg mninggikn drjt adlh mmbri mkn org lain, mnybrkn slm kdmaian, dan shalat mlm ktka org lain sdg tdr.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Kini Wardoyo terpaksa mau ambil pusing dengan pesan-pesan yang baru saja ia baca. Tangannya masih menggenggam ponsel, Wardoyo seperti sedang berpikir. Lalu, jempolnya mulai bergerak menapaki tombol, options – reply. Ia mengetik sebuah pesan balasan, singkat saja. Sapa neh ? kemudian send. Wardoyo menunggu, namun hanya beberapa detik layar ponselnya bertuliskan, message failed. Wardoyo mencoba lagi, tapi gagal lagi, coba lagi, tetap gagal. Huh ! ia mulai kesal. Tiba-tiba sebuah pesan kembali masuk ke ponselnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Imam Syafi’i mmbagi mlm mnjdi 3 bagian : utk mnulis, utk shalat, dan utk tdr. Dia slalu mntpi pmbgian ni scra konsisten.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Begitu isi pesan yang baru saja dibaca Wardoyo. “Ini bukan pesan sembarangan,” ucapnya mencoba menangkap makna. “Tapi siapa pengirim pesan mulia tapi aneh ini ? malaikat ?” ujar Wardoyo pusing. “Masa sih malaikat bisa sms-an.” Kini Wardoyo mulai sibuk dengan pertanyaan-pertanyaannya sendiri. Sementara itu message alert tone berbunyi kembali dari ponselnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Wardoyo, jgnlah ayam jntn lbh crds drpd dirimu. Ia brko2k di akhir mlm. Smntra kmu msih trtdr pls.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;“Gila, ni makhluk kok bisa tau namaku segala,” Wardoyo semakin kesal. Sempat terlintas di benaknya untuk mematikan ponselnya. Tapi itu tak bisa mengalahkan rasa penasarannya. Setelah membalas sms gagal, kini ia mencoba menghubunginya. Ia mengetik nomer aneh itu, 000-000-0000 kemudian call. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Harap-harap cemas Wardoyo melakukan penyelidikannya. Sampai beberapa saat, panggilannya tidak juga tersambung. Wardoyo mengulanginya lagi. Kini ia mulai mendengar suara dari seberang. Namun bunyinya tak seperti sambungan telepon pada umumnya, hanya suara desir angin yang lembut. Suara dari seberang itu kemudian menghilang. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Wardoyo mencoba menghubunginya lagi. Dari ponselnya, ia kembali mendengar suara desir angin. Dan kali ini dibarengi dengan suara yang lamat-lamat membaca sebuah ayat al Quran. Wardoyo merapatkan ponselnya lebih dekat ke telinga kanannya. Suara di seberang mulai terdengar jelas. Wa minal laili fatahajjad bihii naafilatan laka, ‘asaa an yab’atsaka maqaaman mahmudaa. Wardoyo tercengang, mulutnya seperti terkunci rapat dan tak bisa mengucap sepatah kata pun. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Seiring menghilangnya suara itu, Wardoyo mulai merasakan hembusan angin di seberang benar-benar keluar dari dalam ponselnya dan masuk ke dalam telinganya. Wardoyo panik dan berusaha menjauhkan ponsel dari telinganya namun tak bisa. Keringat dingin mulai membasahi sekujur tubuh Wardoyo. Ia terus berusaha melepaskan ponsel yang semakin menempel di telinganya dan terus menghembuskan angin kencang. Wardoyo berteriak seraya melepaskan ponsel dari telinganya dan itu berhasil kemudian melempar ponselnya ke pojok kamar. Aaaaaaaaahhhhhh….!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*** &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Wardoyo terjaga dari tidurnya. Nafasnya tersengal dan dua matanya terbelalak memandangi seisi kamarnya. Tak lama pandangannya terhenti, ia mendapati ponselnya masih utuh. “Huuhh…. untung cuma mimpi,” ujarnya lega sambil memungut ponsel yang tergeletak tak jauh darinya. Pada saat itu juga ia melihat pesan panggilan tak terjawab di ponselnya, 1 missed call.&lt;br /&gt;Wardoyo enggan membuka daftar panggilan tak terjawab di ponselnya. Ia termenung, seperti sedang merangkai ingatan tentang mimpinya barusan. Tangannya masih menggenggam ponsel. Namun si ibu jari belum bergerak, masih terdiam. Ia khawatir nomer aneh dalam mimpinya benar-benar menghubunginya. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Tiba-tiba sebuah pesan masuk ke ponsel Wardoyo. Ini membuatnya makin terdiam. Ingatannya kini benar-benar tertuju pada peristiwa yang terjadi dalam mimpinya. Wardoyo butuh beberapa saat untuk mengumpulkan kekuatan untuk membuka SMS itu. Kemudian, “Bismillah….” ia merapal do’a dan membukanya. Ternyata SMS dari Prastiwi, isinya “KITA PUTUS…!”. Hah…! Wardoyo baru tersadar, ia lupa menelepon Prastiwi tadi malam. [] &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9080682297008997308-616926947814891603?l=blacknovembers.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blacknovembers.blogspot.com/feeds/616926947814891603/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9080682297008997308&amp;postID=616926947814891603&amp;isPopup=true' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9080682297008997308/posts/default/616926947814891603'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9080682297008997308/posts/default/616926947814891603'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blacknovembers.blogspot.com/2008/06/panggilan-tak-terjawab.html' title='Panggilan Tak Terjawab'/><author><name>Fahmi FR</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02538757189290100290</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_7GV8f6ADW_Y/Sgl_2DmUa9I/AAAAAAAAAHA/u6dtkqt1UC0/S220/profile.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_7GV8f6ADW_Y/SF9uIin-nOI/AAAAAAAAACU/7qjhySXS6TU/s72-c/missed+calls.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9080682297008997308.post-3696566434849270185</id><published>2008-06-21T01:03:00.000-07:00</published><updated>2008-06-21T01:59:49.209-07:00</updated><title type='text'>Tuhan, Mudahkanlah Aku Untuk Bangun Pagi</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_7GV8f6ADW_Y/SFzCY0E1QnI/AAAAAAAAABU/v9yhlO_ea1I/s1600-h/wake+up.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5214256200139752050" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_7GV8f6ADW_Y/SFzCY0E1QnI/AAAAAAAAABU/v9yhlO_ea1I/s320/wake+up.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div align="justify"&gt;Aku memulai pagi yang baru. Kemarin pagi, tadi pagi, besok pagi, dan pagi-pagi yang akan datang. Aku harus menemani Emak berjualan di pasar. Sebenarnya ini tidak murni aktifitas baru bagiku. Sebelumnya, setiap Minggu pagi aku mendapat giliran ke pasar. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Jujur, aku tidak ada masalah dengan tugas baru ini. Lagi pula tugas ke pasar sekedar menemani saja. Selepas Shubuh aku sudah bisa pulang. Bahkan, aku mungkin harus bersyukur karena dengan begitu setidaknya aku bisa berbuat sesuatu kepada Emak. Betapa durhakanya diriku jika menolak tugas ini. Hampir semua yang aku terima dan ada pada diriku - sandang, pangan, sekolah, kuliah, dan sebagainya - adalah hasil jerih payah Emak berjualan di pasar. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Satu masalah yang harus aku ungkapkan di sini adalah; bangun pagi. Entah mengapa kemudian bangun pagi muncul menjadi seperti hambatan bagiku. Emak berangkat ke pasar sekitar jam 03.30 dini hari. Otomatis aku juga harus bangun jam segitu. Sebenarnya Emak sering menyarankan aku untuk bangun di sepertiga malam terakhir. Emak tidak pernah bosan mengajak agar aku bisa sholat Tahajjud sebagaimana yang biasa ia lakukan tiap hari. "Manfaate dudu kanggo sapa-sapa, kanggo ira dewek." Begitulah ucapan Emak setiap kali menyampaikan ajakannya itu. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Maaf, Mak. Aku belum bisa sepertimu. Bersimpuh dan bersujud di saat orang-orang, termasuk aku, masih tertidur. Emak tahu, untuk bangun jam 03.30 saja aku belum bisa terjaga sendiri. Aku masih harus dibangunkan, diuprak-uprak olehmu. Dengan begitu pun aku masih agak susah. Apakah aku pemalas? Semoga aku akan mulai terbiasa dengan bangun pagi. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Tuhan, mudahkanlah aku untuk bangun pagi...&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;[ada yang punya jurus jitu untuk bangun pagi? berbagilah denganku. terima kasih] &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9080682297008997308-3696566434849270185?l=blacknovembers.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blacknovembers.blogspot.com/feeds/3696566434849270185/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9080682297008997308&amp;postID=3696566434849270185&amp;isPopup=true' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9080682297008997308/posts/default/3696566434849270185'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9080682297008997308/posts/default/3696566434849270185'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blacknovembers.blogspot.com/2008/06/tuhan-mudahkanlah-aku-untuk-bangun-pagi.html' title='Tuhan, Mudahkanlah Aku Untuk Bangun Pagi'/><author><name>Fahmi FR</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02538757189290100290</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_7GV8f6ADW_Y/Sgl_2DmUa9I/AAAAAAAAAHA/u6dtkqt1UC0/S220/profile.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_7GV8f6ADW_Y/SFzCY0E1QnI/AAAAAAAAABU/v9yhlO_ea1I/s72-c/wake+up.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9080682297008997308.post-1856971738913273918</id><published>2008-06-12T03:59:00.001-07:00</published><updated>2008-06-12T04:03:46.323-07:00</updated><title type='text'>Apapun Selain Itu</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Petang itu ponselku berdering. Belum sempat aku angkat, ponsel berhenti berdering. Missed call, panggilan tak terjawab. &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Ada&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; namamu di layar ponselku. &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Ada&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; apa ya ? Kangen? Iseng? Penasaran. Lalu aku telepon kamu. Telepon tersambung. Aku dengar suaramu agak parau. Sakit? &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;“Iya nih tenggorokanku lagi sakit.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;“Tadi &lt;i style=""&gt;miss call &lt;/i&gt;ya? &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Ada&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; apa?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Dag dig dug – dag dig dug. Jantungku berdetak tak biasa. Seakan berharap jawaban yang menggembirakan. “Nggak ada apa-apa, cuma iseng aja.” Kamu tertawa kecil.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Ooooo……&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;*) &lt;i style=""&gt;Aku sudah menyangka kamu akan berkata begitu. Tapi, sebelum itu ada harapan yang menuntunku untuk menelepon kamu tadi. Harapan apa? Ya, harapan untuk mendapat jawaban selain “cuma iseng aja”. Apapun, selain itu. Mungkin sesuatu yang kamu sembunyikan. Sesuatu apa? Apapun itu! Siapa tahu apa yang kamu sembunyikan itu sama seperti yang juga aku sembunyikan darimu. Rindu? atau mungkin cinta? Seandainya aku punya kekuatan untuk bilang rindu dan cinta, akan aku lakukan! Karena aku memang rindu dan cinta padamu. Tapi, aku belum punya kekuatan. Rindu dan cinta itu tertimbun. Kasian banget deh… &lt;/i&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Hahaha....&lt;/span&gt;[]&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p  style="font-weight: bold;font-family:georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9080682297008997308-1856971738913273918?l=blacknovembers.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blacknovembers.blogspot.com/feeds/1856971738913273918/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9080682297008997308&amp;postID=1856971738913273918&amp;isPopup=true' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9080682297008997308/posts/default/1856971738913273918'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9080682297008997308/posts/default/1856971738913273918'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blacknovembers.blogspot.com/2008/06/apapun-selain-itu_12.html' title='Apapun Selain Itu'/><author><name>Fahmi FR</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02538757189290100290</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_7GV8f6ADW_Y/Sgl_2DmUa9I/AAAAAAAAAHA/u6dtkqt1UC0/S220/profile.JPG'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9080682297008997308.post-795984692474406817</id><published>2008-06-12T02:38:00.000-07:00</published><updated>2008-06-12T02:57:19.750-07:00</updated><title type='text'>Televisi dan Eksploitasi Nafsu Makan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_7GV8f6ADW_Y/SFDyhOBbGmI/AAAAAAAAABA/MqGdM5P-Bwg/s1600-h/Televisampah.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_7GV8f6ADW_Y/SFDyhOBbGmI/AAAAAAAAABA/MqGdM5P-Bwg/s320/Televisampah.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5210931421381335650" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p style="font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Makan dan minum merupakan kebutuhan paling primitif umat manusia. Kemudian kita menyebut kebutuhan ini sebagai kebutuhan pokok. Sebuah kebutuhan untuk mempertahankan eksistensi kehidupan manusia di bumi ini selain kebutuhan akan sandang dan papan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;    &lt;p style="font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;" class="MsoNormal" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Salah satu yang menarik dari pembicaraan tentang kebutuhan pangan adalah adanya pergulatan manusia dalam mengatasi lapar dan hausnya dari masa ke masa. Dimana untuk pemenuhan kebutuhan ini saja umat manusia telah mengalami perjalanan evolusi yang cukup panjang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p style="font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;" class="MsoNormal" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Mulai dari cara hidup nomaden yang cukup dengan makan dedaunan seadanya. Kemudian beralih pada pola hidup berkelompok dengan berburu dan meramu (&lt;i style=""&gt;food gathering&lt;/i&gt;). Dan sampai pada kehidupan kita sekarang yang banyak menciptakan kemudahan dan bermacam jenis makanan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p style="font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;" class="MsoNormal" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Abraham Malinowski, seoarang antropolog, menjelaskan fenomena ini melalui teori evolusi kebutuhan. Menurut Malinowski, kebutuhan manusia yang semakin kompleks sejatinya merupakan derivasi dari berbagai kebutuhan dasar. Kebutuhan manusia akan terus berkembang dari bentuknya yang sederhana hingga yang paling canggih.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p  style="text-align: center; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;" class="MsoNormal" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p style="font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;" class="MsoNormal" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Di negeri ini, setidaknya dalam beberapa tahun terakhir, aktifitas makan dan juga minum cukup mendapat perhatian yang cukup serius. Hampir seluruh stasiun televisi beramai-ramai menayangkan program acara bertema kuliner. Inilah konsekuensi dari sikap pengelola stasiun televisi yang lebih mementingkan rating dibanding pertimbangan lainnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p style="font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;" class="MsoNormal" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Rating adalah sistem yang digunakan untuk mengukur banyaknya penonton tayangan, yang paling tidak minimum satu menit atau bahkan 17 detik. Sistem ini melulu berurusan dengan kuantitas dan sama sekali tidak memperhitungkan kualitas suatu tayangan. Padahal, sistem rating dalam sejarahnya ditumbuhkan dalam perspektif memenuhi kewajiban perlindungan terhadap masyarakat. (Sunardian Wirodono, 2006: 91)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p style="font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;" class="MsoNormal" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Melalui tayangan-tayangan bertema kuliner, aktifitas makan dan minum digambarkan serta diarahkan pada sesuatu yang tidak lagi sekedar sebagai ritual untuk mengatasi lapar dan haus. Di sini kegiatan makan dan minum mulai diboncengi dengan makna-makna simbolik tertentu dan dengan cara-cara tertentu pula. Simak saja apa yang dilakukan Bondan Winarno setiap kali usai menyantap berbagai hidangannya, “&lt;i style=""&gt;Mak Nyoos!&lt;/i&gt;”, atau kata “&lt;i style=""&gt;Ajiiib!&lt;/i&gt;” yang diucapkan Fauzi Badila.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p style="font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;" class="MsoNormal" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Itulah sebetulnya hakikat dari proses penciptaan budaya konsumerisme. Budaya konsumerisme adalah budaya konsumsi yang ditopang oleh proses penciptaan ‘diferensi’ secara terus menerus lewat penggunaan ‘citra’, tanda, dan makna simbolik dalam proses konsumsi. Ia juga budaya belanja yang proses perubahan dan perkembangannya didorong oleh logika ‘hasrat’ dan ‘keinginan’, ketimbang logika kebutuhan. (Yasraf A. Piliang, 2004: 296) &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p style="font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;" class="MsoNormal" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Berbagai jenis masakan ‘dihidangkan’ dan ‘diantar’ langsung ke rumah-rumah melalui tayangan ini. Mulai dari yang tradisional di pelosok-pelosok nusantara sampai masakan internasional di restoran-restoran terkenal. Itu semua diciptakan sebagai cara untuk mengeksploitasi dorongan-dorongan hasrat para pemirsanya. Maka jangan heran jika di satu kesempatan anda akan &lt;i style=""&gt;ngiler&lt;/i&gt; menonton tayangan seperti ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p style="font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;" class="MsoNormal" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Jika tren tayangan jenis ini berlangsung lama, maka entah apa jadinya bangsa ini. Setiap hari masyarakat akan dijejali dengan berupa-rupa makanan sehingga yang mereka pikirkan hanya berkutat pada urusan perut. Pagi ini sarapan apa? Nanti siang makan di mana? Nanti malam makan dengan siapa? Dan setumpuk daftar perburuan makanan lainnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p style="font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;" class="MsoNormal" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Beberapa pertanyaan di atas kemudian dengan sendirinya akan menjadi sebuah paradoks di masyarakat kita. Terlebih ketika pemerintah tak juga mampu mengatasi kemiskinan, pengangguran, dan masalah sosial lainnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p style="font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;" class="MsoNormal" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Bagi mereka yang kaya, berpenghasilan lebih, tentu bukanlah masalah untuk memenuhi tuntutan nafsu makan mereka. Sementara bagi mereka yang miskin, hidup serba pas-pasan, tentu semua itu akan menjadi isapan jempol semata. Tayangan kuliner hanya membuat mereka gigit jari, menelan ludah. Atau bahkan membuat kemiskinan mereka terasa lebih menyedihkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p style="font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;" class="MsoNormal" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Inilah yang kemudian disebut oleh Baudrillard sebagai masyarakat &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;massa&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;. Dalam masyarakat &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;massa&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;, media menciptakan ledakan makna yang luar biasa hingga mengalahkan realitas nyata.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p style="font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;" class="MsoNormal" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Televisi memiliki kemampuan manipulatif untuk membius, membohongi, dan melarikan masyarakat pemirsanya dari kenyataan-kenyataan kehidupan sekelilingnya. Apalagi ketika dunia pertelevisian di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; dibangun dan ditumbuhkan melalui orientasi laba-rugi, tanpa regulasi yang jelas, serta tanpa lembaga kontrol yang memadai. (Wirodono, 2006: ix)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p  style="text-align: center; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;" class="MsoNormal" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p style="font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;" class="MsoNormal" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Makanan akan selalu menjadi barang yang langka ketika dihadapkan dengan sistem-sistem ekonomi dan politik yang lebih luas. Dalam konteks ini, pangan yang secara kasat mata hanyalah sebuah materi, melalui pemaknaan ekonomis, tertransfomasikan menjadi komoditas. Sehingga seorang atau kelompok akan mencari keuntungan atasnya. (Khudori, 2005: vii)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p style="font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;" class="MsoNormal" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Tak heran jika para kapitalis dan pemilik modal berebut menguasai industri ini. Berbagai restoran &lt;i style=""&gt;fast food &lt;/i&gt;dengan logika cepat saji ala &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;gaya&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; hidup modern sampai warung makan tradisional khas daerah tumbuh subur seraya membentuk pola makan masyarakat. Sayangnya, pembentukan pola makan tersebut semata-mata didasari oleh hukum mekanisme pasar. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p style="font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;" class="MsoNormal" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Melalui logika pasar beragam komoditas dihadirkan. Karena begitu melimpah, masyarakat pun tak diberi kesempatan untuk memilih. Dalam kondisi ini sebenarnya tak ada lagi pilihan yang benar-benar muncul dari diri kita. Pasarlah yang menentukan pilihan kebutuhan konsumsi kita sehari-hari. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"  style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Pada akhirnya, televisi hanya akan menjadi kabar buruk bagi masyarakat kita. Karena kecenderungan tayangan yang ada hanya menuntun pemirsanya untuk mengkonsumsi. Tanpa mempertimbangkan kondisi objektif masyarakatnya. []&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9080682297008997308-795984692474406817?l=blacknovembers.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blacknovembers.blogspot.com/feeds/795984692474406817/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9080682297008997308&amp;postID=795984692474406817&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9080682297008997308/posts/default/795984692474406817'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9080682297008997308/posts/default/795984692474406817'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blacknovembers.blogspot.com/2008/06/tv-dan-eksploitasi-nafsu-makan.html' title='Televisi dan Eksploitasi Nafsu Makan'/><author><name>Fahmi FR</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02538757189290100290</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_7GV8f6ADW_Y/Sgl_2DmUa9I/AAAAAAAAAHA/u6dtkqt1UC0/S220/profile.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_7GV8f6ADW_Y/SFDyhOBbGmI/AAAAAAAAABA/MqGdM5P-Bwg/s72-c/Televisampah.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9080682297008997308.post-2283552442229792697</id><published>2008-06-08T04:54:00.000-07:00</published><updated>2008-06-08T07:03:18.590-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='liburan'/><title type='text'>Tanpa Huruf "L"</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_7GV8f6ADW_Y/SEvanDiP85I/AAAAAAAAAAg/KMezVvtSl0I/s1600-h/polisi.gif"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5209497758482822034" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 198px; CURSOR: hand; HEIGHT: 282px" height="296" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_7GV8f6ADW_Y/SEvanDiP85I/AAAAAAAAAAg/KMezVvtSl0I/s320/polisi.gif" width="207" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Libur sekolah telah tiba. Teriakan-teriakan lantang bocah-bocah kembali terdengar di rumah. Agak terganggu sebenarnya aku melihat tingkah polah mereka. Maklum, setiap hari rumahku biasa dengan sepi. Tapi, ya sudahlah... sebagai tuan rumah aku harus tetap menghormati dan menerima mereka. Apalagi mereka adalah keponakan-keponakanku sendiri. Paman macam apa jika aku memarahi atau bahkan mengusir mereka. Hahaha....&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Aku punya 11 keponakan dari 4 kakakku yang sudah berkeluarga. Jadi, bisa dibayangkan betapa 'kacau'-nya rumahku saat mereka berkumpul. Bagian yang membahagiakan bagiku adalah ketika mereka akur bermain bersama, berbagi mainan, dan... pokoknya yang tidak memicu tangis deh. Di luar itu, aku, mungkin juga keluargaku yang lain, akan dibuat kesal dan marah. Misal, ketika mereka berebut mainan, berantem, dan akhirnya menangis karena tidak mau mengalah satu sama lain. Yang lebih parah lagi, kalau ada satu dari mereka yang menangis tanpa alasan yang jelas, atau meminta sesuatu yang aneh-aneh gitu. Dasar anak-anak, pusing deh...&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Di sisi lain, ternyata ada juga hal-hal yang membuat aku tertawa dengan kelakuan anak-anak itu. Seperti cerita yang satu ini...&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Suatu hari, sekitar 5 keponakanku bermain kejar-kejaran. Di rumah yang tidak begitu luas mereka berlarian keluar masuk rumah. Entah apa yang mereka ributkan sehingga salah satu dari mereka harus diuber. Belakangan aku tahu kalau mereka sedang bermain polisi-polisian. Nah, bocah yang dikejar itu berperan sebagai maling yang telah mencuri sesuatu. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Beberapa menit si polisi (diperankan oleh Ismail) dan si maling (diperankan oleh Zidni) hanya berlari berkejaran tak karuan. Si maling terus berlari secepat mungkin, meliuk di antara pintu-pintu rumah, menyusup ruang tamu, teras, hingga dapur untuk menghindar agar tidak tertangkap. Pun halnya dengan si polisi, ia tampak hanya mengikuti, bukan mengejar untuk menangkap si maling. Sementara 3 keponakanku yang lain pura-pura berperan sebagai 1 korban dan 2 lainnya pura-pura berperan sebagai masyarakat yang sedang menenangkan si korban.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Si polisi mulai kewalahan dan kelelahan mengejar si maling. Dia berhenti di dekat korban yang masih (pura-pura) menangis. Sedangkan si maling masih tetap berlari meski tak lagi dikejar polisi. Keponakanku yang (pura-pura) jadi maling ini memang terkenal gesit dan lincah. Seraya mempecundangi polisi, si maling terus berlari. Saat melintas di depan si polisi, si maling sesekali menggoda menjulurkan lidahnya sambil terus berlari. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Lama kelamaan, si polisi berang. Ia mulai terlihat akan kembali mengejar si maling. Namun, kini ia tidak tinggal diam. Tak ada sirine, mulut pun jadi. Sambil berlari mengejar, si polisi berteriak-teriak. "MANING...MANING...MANIIINGG...." teriak si polisi. Sementara si maling tetap berlari menghindar. Si polisi kembali berteriak, "MANING...MANIIIINNGG....". Teriakannya kali ini menghentikan lari si maling. Ia terheran-heran, termasuk aku juga. Sebenarnya apa maksud teriakkannya itu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Tapi, kemudian aku langsung tertawa terpingkal-pingkal. Aku baru &lt;em&gt;ngeh&lt;/em&gt;, keponakanku yang jadi polisi itu akan mengucapkan "N" untuk huruf "L". Jadi, maksudnya ia berteriak MALING, karena ia tidak bisa maka jadilah MANING. Hahaha.... ada-ada saja. Permainan pun usai.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Ini mungkin juga terjadi pada keponakan dan anak-anak yang lain atau bahkan anda sendiri. Kalau mengingat keponakanku si polisi itu, aku jadi suka tertawa sendiri. Hehe... Coba saja perhatikan, semua huruf "L" yang ada pada susunan kata akan menjadi "N". &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;"Umi, aku mau beni Sene One" (maksudnya; Umi, aku mau beli Sle Olee [biskuit favoritnya]) &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;"Mas Dina nagi sekonah" (maksudnya; mas Dila lagi sekolah [mas Dila ini kakaknya])&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Dan, banyak deh... silahkan dicoba melafalkan kata-kata ala Ismain, eh Ismail ding... []&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9080682297008997308-2283552442229792697?l=blacknovembers.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blacknovembers.blogspot.com/feeds/2283552442229792697/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9080682297008997308&amp;postID=2283552442229792697&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9080682297008997308/posts/default/2283552442229792697'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9080682297008997308/posts/default/2283552442229792697'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blacknovembers.blogspot.com/2008/06/tanpa-huruf-l.html' title='Tanpa Huruf &quot;L&quot;'/><author><name>Fahmi FR</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02538757189290100290</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_7GV8f6ADW_Y/Sgl_2DmUa9I/AAAAAAAAAHA/u6dtkqt1UC0/S220/profile.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_7GV8f6ADW_Y/SEvanDiP85I/AAAAAAAAAAg/KMezVvtSl0I/s72-c/polisi.gif' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9080682297008997308.post-5677591859570300733</id><published>2008-05-30T03:06:00.000-07:00</published><updated>2008-06-08T06:25:09.903-07:00</updated><title type='text'>Nek, Sebaiknya Kau Mati Saja</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_7GV8f6ADW_Y/SEvdo75mn0I/AAAAAAAAAAo/fFp7zk8KQ00/s1600-h/nenek.bmp"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5209501089327914818" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_7GV8f6ADW_Y/SEvdo75mn0I/AAAAAAAAAAo/fFp7zk8KQ00/s320/nenek.bmp" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;a short story by Ali Irfan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Depan pelataran rumah, seorang perempuan tua duduk di atas kursi malas. Matanya menatap kosong. Sesekali ia menggerakkan kursi malasnya yang hampir saja diam dengan tangan yang masih menyimpan sisa-sisa tenaga saat masih muda. Ia pun menggerakkan pelan, perlahan.&lt;br /&gt;Kerut kulitnya begitu kentara terlihat. Pun jika dilihat dari kejauhan. Rambut masih legam panjang, tidak seperti nenek pada umumnya yang sudah memutih di usianya. Kata ibuku, perempuan tua itu sewaktu masih muda keramas dengan merang, sisa pembakaran jerami padi yang ada di sawah-sawah. Hanya ditambahkan sedikit air, lalu dibasuh rata dari ujung sampai pangkal. Demikian halnya dengan gigi yang masih tertata rapi, leng-kap dan tak ada satu pun tanggal. Masih gigi asli. Masih kata ibuku, katanya orang-orang zaman dulu itu merawat gigi dengan remukan batu bata dari tanah liat sebagai odol.&lt;br /&gt;Tak lama, terdengar hentakkan batuk perempuan tua. Sebelumnya ia tengah asyik dengan kinang yang bermain-main dimulutnya. Bibirnya memerah keemasan. Bahkan cairan merah itu mengalir melewati kedua sudut bibir. Lama aku menatap. Batinku berkata, seolah-olah sedang menatap drakula yang habis menghisap darah dengan kedua taring. Aku takut. Kalau-kalau ia berubah jadi drakula yang siap menerkamku seketika, padahal aku tak mau mati konyol.&lt;br /&gt;Nenek itu hidup seorang diri di sebuah rumah tua. Tak jauh dari rumahku. Anak-anaknya sudah tak bersamanya lagi. Bahkan hampir dipastikan mereka tak ada yang menjenguknya. Entah kesibukkan macam apa yang dialami sampai-sampai mereka lupa bahwa ada seorang tua renta tak berdaya selalu mengharap kedatangan mereka.&lt;br /&gt;Semenjak kepergian anak-anaknya merantau ke kota, ia makin sering didera penyakit. Sakitnya bertambah parah setelah sekian lama menunggu, anak-anaknya tak jua pulang menemui. Yang diderita tak hanya pada tubuh yang makin rapuh, pada tulang yang sudah tak mampu menopang berdiri tegap, melainkan juga pada sakit perasaaan yang sudah lama terpendam.&lt;br /&gt;Sementara waktu begitu sombong. Berlalu tanpa menghiraukan siapa dan memeduli-kan apa. Waktu tak pedulikan itu. Sementara anak ayam berkicau di samping rumah, en-tah berteriak mencari induk ayam ataukah meminta makan.&lt;br /&gt;Dalam lamunan aku berkata, “Nek sepatutnya di saat sekarang ini kau tak sendiri. Seharusnya bukan ayam-ayam itu yang menemani hari-hari nenek.” Keseharian si nenek memang tak lepas dari mengurus anak ayam yang memang sudah ia anggap sebagai teman. Atau mungkin dianggap sebagai anak sendiri. Ia tak pernah lupa memberi mereka makan. Entah dengan bekatul, beras bahkan sisa makanan.&lt;br /&gt;Kalau saja ayam-ayam itu adalah anak-anaknya pasti terasa senanglah hati nenek. Tak kesepian seperti sekarang ini. Meskipun dibiarkan bebas berkeliaran, toh mereka itu pada pulang di sore harinya. Angan sekedar angan. Tetap saja mereka tak akan menjelma jadi anak-anaknya yang telah lama pergi entah kemana. Tak pernah pulang, tak ada kabar.&lt;br /&gt;Pernah suatu ketika, ia mendapati ada yang kurang pada anak ayam itu ketika pulang di senja hari. Panik ia bukan main. Ia lantas mencari ke setiap sudut. Berteriak. Teriak-kannya menjadi perhatian tetangga, termasuk ibuku. Meski dengan langkah tertatih ia te-tap mencari anak ayam yang hilang itu.&lt;br /&gt;Tiap kali bertemu orang yang kebetulan berpapasan, pasti ia ditanya. “Apa kau meli-hat anak ayam milikku?” tanyanya masi dalam kepanikkan. Orang yang tak suka ditanya, menyebut dalam hati bahwa si nenek itu telah gila. Dalam benak ia berkata, kehilangan anak ayam saja, paniknya bukan main.&lt;br /&gt;Entah kenapa tiba-tiba orang itu mendapat umpatan, “Dasar orang tidak tahu diri,” Kontan orang itu terkaget dan langsung beringsut menghindar dari umpatan si nenek. Si nenek marah. Indera dengarnya begitu tajam. Kata-kata itu tertangkap di telinganya. Dan orang itu lebih memilih menghindar bermasalah dengan si nenek.&lt;br /&gt;Hari mulai gelap. Suasana hening. Sebentar lagi adzan magrib bergema. Di sekitar su-dah tidak ditemui suara decit anak ayam. Semua ayam milik penduduk sudah ngandang. Tak henti nenek itu terus mencari. Ia sempat kecedwa, namun buru-buru ia menepis. Ia yakin, anak ayamitu tak jauh dari sini.&lt;br /&gt;Tak lama setelah itu terdengar suara decit anak ayam. Si nenek merasa yakin, suara itu suara anak ayam yang ia cari. Dugaannya benar. Ia mendapati kaki anak ayam itu kena jeratan seutas tali di sebongkah kayu hingga ia tak bisa bergerak.&lt;br /&gt;Begitulah nenek yang tinggal bersebelahan. Saat ia merasa kehilangan anak ayam, gemparlah semua orang sekampung. Setiap orang yang jadi lawan bicaranya tak lepas dari obrolan tentang anak-anaknya yang hingga kini belum pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Akhir-akhir ini aku tak pernah melihat si nenek itu duduk di beranda rumah tuanya. Seperti biasa, duduknya si nenek tidak lain mengharap anak-anak pulang menemuinya. Ia berharap bisa memeluk mereka. Sebuah keinginan yang hingga kini belum terwujud.&lt;br /&gt;Perasaanku makin tak enak saja. Kebiasaanku menyapa tiap pagi saat ia duduk di pelataran rumah tak bisa aku lakukan lagi. Ia sudah jarang ada disana, entah kenapa.&lt;br /&gt;Penasaran, aku memberanikan diri menemui nenek itu. Sebelumya aku hanya menemui dia di depan rumah saja. Tak pernah aku masuk ke dalam rumah. Pintu rumahku buka perlahan. Aku merasakan aroma aneh. Tapi coba kutepis.&lt;br /&gt;“Nek…nenek,” aku menyapa. Tak ada sahutan. Sekali dua kali tak ada sahutan. Suasana rumah sepi. Jelaga bergelantungan di bawah langit-langit. Kakiku melangkah mencari dimana nenek berada. Mungkin ia sedang istirahat di kamar.&lt;br /&gt;“Nek,”aku menyapa pelan sambil membuka pintu perlahan. Terdengar suara erangan tak berdaya. Ia terbaring lemah diatas tempat tidur kumal. Bekas merah kinang bercece-ran kering di lantai. Ternyata ia tengah bergelut dengan penyakit yang telah lama meng-gerogotinya.&lt;br /&gt;“Nenek baik-baik saja?” tanyaku pelan. Saat aku bertanya, ia tengah sibuk mencari si-sa-sisa napas seolah hendak lepas. Nafasnya tersengal. Aku merasakan ia benar-benar ter-siksa.&lt;br /&gt;“Nek, kenapa kau tidak mati saja menemui suamimu yang sudah meninggal beberapa puluh tahun lalu. Mungkin saja anak-anakmu sudah berkumpul di sana, dan tinggal me-nunggu nenek saja. Dari pada harus hidup seorang diri tanpa satu pun keluarga yang me-ngurus nenek. Anak-anak yang tega membiarkan hidup sendiri sampai saat ini tak per-nah memberi kabar. Sudah sukseskah jadi orang atau malah sebaliknya menjadi gelan-dangan hingga ia merasa malu dan tak mau pulang. Syukur kalau mereka masih hidup. Bagaimana kalau sudah mati, dimana mereka dikubur ia tak tahu,” kataku dalam hati.&lt;br /&gt;Pyarr! Tiba-tiba aku tersadar. Pecahan gelas menyadarkanku dari lamunan. Hampir saja nenek itu terjatuh. Buru-buru aku menyangga tubuh lapuknya. Ah, nenek kenapa tak bilang mau ambil segelas air dalam gelas itu.&lt;br /&gt;Lho, kenapa jadi aku yang menyalahkan nenek. Kalau aku tak melamun, mungkin tak begini akhirnya. Ini salahku. Aku melamunkan kondisi nenek renta yang hidup sebatang kara. Harapku sebaiknya ia cepat mati saja, agar deritanya tak berkelanjutan.&lt;br /&gt;“Kamu jangan seperti anak-anak nenek,” ia seketika berujar. Dari ceritanya terlihat diwajahnya yang penuh tanya. Seolah-olah ia menyesal telah melahirkan anak yang tidak ada bakti sama sekali. Entah salah apa yang nenek perbuat. Nenek mencoba merenungi masa lalu.&lt;br /&gt;“Iya Nek,” aku mengangguk pelan.&lt;br /&gt;Lagi-lagi aku membayangkan. Anak macam apa yang tega membiarkan ibunya sendiri hidup tanpa ada yang menemani. Aku yakin, tak akan ada yang mau bernasib seperi nenek yang sedang berada di hadapanku ini.&lt;br /&gt;Nek, aku berharap masa tua nenek tidak digunakan untuk mengumpat anak-anak nenek, apalagi sampai mengutuk jadi batu seperti dalam legenda Malin Kundang. Aku yakin, setiap kata yang terujar dari seorang ibu pasti nyata dan bernilai doa. Bukankah surga ada di bawah telapak kaki ibu.&lt;br /&gt;“Nenek nggak bakalan mengumpat anak sendiri,” kata-kata itu terujar seketika dari mulut nenek. Sempat membuatku kaget. Pikir kecilku, apa ia tahu apa yang sedang aku pikirkan? Apa yang aku pikirkan hanya terucap dalam benak. Apa ia bisa membaca pikiran seseorang? Mudah-mudahan tidak! Itu hanya sebuah kebetulan. Tapi apa mungkin? Batinku berkecamuk.&lt;br /&gt;“Setiap saat nenek selalu berdoa. Semoga mereka baik-baik saja. Nenek sudah tua. Nenek serahkan semuanya kepada yang kuasa,” katanya. Saat itu aku diam seribu bahasa dan hanya mendengar tiap kata yang terujar darinya.&lt;br /&gt;Ia memintaku mengambil segelas air. Aku menurut saja dan langsung pergi ke dapur. Aku tak mendapati air di sana. Kering tak ada air tersisa meski setetes. Untuk masak air pun tidak memungkinkan. Dapur nenek sepertinya sudah lama tak berasap.&lt;br /&gt;Aku ambil saja di rumah, pikirknya saat itu. Aku beringsut keluar menuju rumah untuk mengambil segelas air. Kubuatkan segelas teh pahit kesukaannya yang biasa ia minum. Aku tahu, ia tidak meminum air putih. Katanya air putih itu tidak berasa. Bahkan tak jarang memakan teh hitam sebagai camilan selain kinang. Teh hitam pekat selesai sudah kubuat. Aku bergegas menuju rumah nenek.&lt;br /&gt;Sesampainya di sana, nenek malah tertidur. Aku coba membangunkannya. Tapi nenek tak menyahut. Kemudian aku duduk disampingnya. Maksudku biar ia bangun. Entah kenapa ia tak juga bangun. Cukup lama di sana. Setelah kupegang denyut nadinya, ternyata ia sudah tak bernafas.[]&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9080682297008997308-5677591859570300733?l=blacknovembers.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blacknovembers.blogspot.com/feeds/5677591859570300733/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9080682297008997308&amp;postID=5677591859570300733&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9080682297008997308/posts/default/5677591859570300733'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9080682297008997308/posts/default/5677591859570300733'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blacknovembers.blogspot.com/2008/05/nek-sebaiknya-kau-mati-saja.html' title='Nek, Sebaiknya Kau Mati Saja'/><author><name>Fahmi FR</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02538757189290100290</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_7GV8f6ADW_Y/Sgl_2DmUa9I/AAAAAAAAAHA/u6dtkqt1UC0/S220/profile.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_7GV8f6ADW_Y/SEvdo75mn0I/AAAAAAAAAAo/fFp7zk8KQ00/s72-c/nenek.bmp' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry></feed>
